Hakim Risih dengan Siaran Langsung Sidang

TEMPO.CO , Jakarta - Siaran langsung yang dilakukan sejumlah stasiun televisi pada sidang perkara korupsi yang berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi ternyata membuat hakim risih. Salah satu hakim yang mencurahkan kekhawatirannya mengenai siaran langsung itu adalah Sudjatmiko.

Siaran langsung mengenai persidangan yang tengah berjalan, menurut hakim Sudjatmiko, membuat para calon saksi yang akan diperiksa mengetahui fakta yang disampaikan saksi lainnya di persidangan. "Padahal antar-saksi tak boleh berkomunikasi," kata Sudjatmiko, Kamis 22 November 2012.

Namun dengan siaran langsung yang ditayangkan stasiun televisi, maka saksi yang esok harinya akan memberikan keterangan sudah mengetahui situasi di persidangan dan bisa jadi akan mempengaruhi kesaksiannya.

Selain itu, Sudjatmiko menggarisbawahi aturan yang melarang anak-anak masuk ke ruang sidang. Dengan adanya siaran langsung melalui stasiun televisi, aturan ini menjadi tak berarti karena anak-anak bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam ruang siang. "Anak-anak sampai kakek nenek ikut menonton," katanya.

Kekhawatiran Sudjatmiko bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat. Menurut dia, publik menyukai siaran langsung tersebut karena bisa memperoleh informasi terkini. "Publik terkadang senang dengan semua ini," ucapnya.

Untuk mengontrol siaran langsung dari ruang sidang, hakim Sudjatmiko meminta Dewan Pers meninjau kembali acara siaran langsung tersebut. Menurut dia, sebagai pihak yang berwenang, Dewan Pers dapat memilah mana siaran yang tepat dilaporkan secara langsung dan mana yang tidak.

Di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, beberapa media sering melakukan siaran langsung. Terlebih untuk kasus-kasus besar seperti perkara suap dengan terdakwa Angelina Sondakh, Muhammad Nazarudin, Miranda Goeltom, dan lainnya.

NUR ALFIYAH

Berita terpopuler lainnya:

Marzuki Alie: Mahasiswa di Jerman Seperti Maling

Deddy Mizwar Kaget Ada Dana Century di Rekeningnya 

Marzuki Alie Balas Kritik PPI Jerman 

Aktivis Ajak Warga Stop Nonton Metro TV Sehari

Marzuki Alie Luruskan Pernyataan Mahasiswa Maling

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.