Halodoc Perluas Layanan Tes Swab Antigen

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Halodocbaru saja mengumumkan terus memperluas akses tes Covid-19 secara mandiri. Kali ini, startup tersebut akan memperluas layanan Tes Swab Antigen yang sudah tersedia sejak awal Oktober 2020.

Langkah ini diambil setelah WHO mengeluarkan rekomendasi dua produk tes cepat antigen menggunakan metode swab pada 2 Oktober 2020. Adapun Halodoc mengadakan layanan Tes Swab Antigen ini di Jakarta dan Surabaya.

Sebagai informasi, Tes Swab Antigen ini dilakukan dengan mengambil sampel dari cairan nasofaring melalui teknik swab untuk mendeteksi keberadaan antigen virus tertentu dengan hasil diagnosis yang cepat.

Halodocsendiri mengklaim sebagai platform healthtech pertama di Indonesia yang memfasilitasi Tes Swab Antigen. Tes ini dapat diakses melalui layanan drive thru maupun membuat janji terlebih dulu di mitra fasilitas kesehatan.

Menurut Chief Business Officer dan Co-Founder Halodoc, Doddy Lukito, akses bagi masyarakat untuk melakukan tes akurat yang lebih cepat dan terjangkau merupakan startegi mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia.

“Hal inilah yang melandasi Halodoc untuk terus memperluas layanan tes COVID-19, dalam hal ini Tes Swab Antigen, dan menjalin kemitraan dengan berbagai pelaku industri yang menyediakan akses ke layanan tes terbaru ini,” tuturnya dalam keterangan resmi yang diterima.

Adapun Tes Swab Antigen di fasilitas drive thruHalodoc tersedia mulai Rp 299.000. Tes ini menggunakan produk Panbio dari Abbott yang memiliki tingkat sensitivitas 91,4 persen dan spesifisitas 99,8 persen (khusus untuk Covid-19).

Hasil Tes Swab Antigen juga bisa diperoleh hanya dalam waktu 60 menit. Nantinya, seluruh petugas kesehatan yang bertugas akan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, seperti masker, face shield, baju hazmat, dan sarung tangan karet.

Halodoc Masuk ke Dalam Daftar Digital Health 150 versi CB Insights

Di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (27/3/2020), CEO Halodoc Jonathan Sudharta menyampaikan, pasien yang positif Corona COVID-19 dapat berkonsultasi dan berinteraksi dengan layanan telemedik. (Dok Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB)
Di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (27/3/2020), CEO Halodoc Jonathan Sudharta menyampaikan, pasien yang positif Corona COVID-19 dapat berkonsultasi dan berinteraksi dengan layanan telemedik. (Dok Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB)

Halodoc menjadi salah satu health-tech startup yang masuk ke dalam daftar Digital Health 150 versi CB Insights. Daftar ini memuat 150 health-tech startup paling inovatif dan menjanjikan di seluruh dunia.

Digital Health 150 tahun ini terdiri dari 12 kategori, mulai dari Virtual Care Delivery dan Clinical Trials, hingga Drug Discovery dan Specialty Care. Adapun health-tech startup di dalam daftar tahun ini antara lain berasal dari Kanada, Tiongkok, Israel, Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat.

Digital Health 150 tahun ini merupakan edisi dengan cakupan global paling luas yang kami adakan, melingkupi berbagai perusahaan swasta di bidang kesehatan terbaik dari 18 negara," ujar Anand Sanwal, CEO CB Insights.

Selain keberagaman lokasi, kata Anand, perusahaan-perusahaan yang termasuk ke dalam daftar ini menciptakan inovasi layanan kesehatan di berbagai sektor terkait.

Pemenang Digital Health 150 tahun lalu mendapat pengakuan dan berhasil mendapatkan total pendanaan hingga mencapai hampir USD 5 miliar. Kami tentu tak sabar ingin melihat pencapaian yang mungkin akan diraih oleh para pemenang di tahun ini," tutur Anand.

Menanggapi daftar ini, Jonathan Sudharta, CEO dan Co-founder Halodoc mengaku merasa terhormat karena Halodoc dapat kembali masuk ke daftar Digital Health 150 dari CB Insights.

"Pengakuan ini tentu menjadi motivasi bagi kami sebagai perusahaan rintisan karya anak bangsa untuk terus berinovasi dalam memberikan kenyamanan akses kesehatan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia," tutur Jonathan.

Harapan

Jonathan berharap pencapaian ini dapat menjadi inspirasi bagi ekosistem startup lokal dalam meningkatkan daya saing dan membuktikan bahwa Indonesia mampu bersanding dengan perusahaan global.

Tim riset CB Insights menyeleksi Digital Health 150 dari ratusan aplikasi yang masuk dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk aktivitas paten, kualitas investor, analisis sentimen pemberitaan media, skor Mosaic, potensi pasar, kolaborasi, lanskap kompetitif, kekuatan tim, dan inovasi teknologi.

(Dam/Why)