Hama Tikus Jadi Masalah Endemik di Kampung Samosir Simalungun, Penyebabnya?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Simalungun Petani di Kampung Samosir, Nagori Karang Bangun, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut) resah karena munculnya hama tikus yang menyerang tanaman padi.

Berulang kali petani harus menerima kenyataan hasil panen turun hingga 25 persen. Petani diimbau untuk lebih rajin melakukan sanitasi, gropyokan jika terjadi serangan dan memelihara burung hantu sebagai predator alami tikus di lahannya.

"Apalagi di sekeliling desa tersebut masih terdapat perkebunan," kata Marino, Senin (13/9/2021).

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH), Marino mengatakan, hama tikus sudah menjadi masalah endemik di kawasan tersebut.

Disebutkannya, di Kabupaten Simalungun terdapat 18 orang petugas lapangan yang disebut dengan Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT). Dari 18 orang itu ada 1 koordinator, dan ditempatkan di seluruh kecamatan untuk melakukan pengamatan (monitoring) di lapangan.

Selain hama tikus, yang menjadi tantangan petani juga ada hama lainnya seperti penggerek batang, kresek, dan blas. Berdasarkan pengamatan petugas POPT, jika ditemukan serangan maka dilakukan pengendalian.

"Jika masih di bawah ambang kendali, langkah yang dilakukan adalah langkah pencegahan," sebutnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pengendalian

Di Kampung Samosir sudah dilakukan langkah pengendalian bersama petani dan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun
Di Kampung Samosir sudah dilakukan langkah pengendalian bersama petani dan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun

Marino menuturkan, jika serangan sudah muncul, dilakukan pengendalian secara responsif. Di Kampung Samosir, sudah dilakukan langkah pengendalian bersama petani dan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun.

"Mengenai bahannya, diperoleh dari Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan yang sudah didistribusikan ke gudang-gudang kabupaten," tuturnya.

Gudang-gudang tersebut tidak hanya ada di Simalungun, tetapi juga ada di Asahan, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan daerah lainnya. Bahan-bahan pengendalian salah satunya pestisida.

"Harapannya, seandainya ada serangan hama, mereka langsung ambil dari gudang itu kemudian langsung akasi bersama petani di lapangan," Marino menerangkan.

Di Kampung Samosir juga dikabarkan sudah berulangkali gagal panen akibat serangan tikus. Marino mengatakan, pihaknya sudah mengecek di lapangan, dan hasilnya didapat jika petani tidak mengalami gagal panen, tetapi mengalami penurunan hasil panen sekitar 25 persen.

"Ada serangan tikus, masih kategori sedang. Ada kriterianya, ringan, sedang, berat, puso. Ipetani di sana masih bisa memanen hasil," terangnya.

Rekomendasi

Ilustrasi burung hantu. (Liputan6/Pixabay)
Ilustrasi burung hantu. (Liputan6/Pixabay)

Marino mengungkapkan, pihaknya merekomendasikan kepada para petani untuk lebih rajin melakukan sanitasi di lahan, salah satunya membersihkan parit. Kemudian melakukan gropyokan yakni pengendalian tikus secara bersama-sama.

Pihaknya juga sudah memfasilitasi pembuatan rumah burung hantu atau titu alba sebagai predator tikus sebanyak 40 unit di beberapa kabupaten. Untuk Simalungun, sudah ada pembuatan rumah burung hantu. Hanya saja di Desa Nagori Karang Bangun belum ada.

"Burung hantu dapat makan lima ekor tikus dalam satu malam. Dalam 25 hektare, kita pasang satu unit, dan harapannya burung hantu bisa menjangkau seluas 25 hektare," tandasnya.

Saksikan Video Menarik Berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel