Hamparan Surga Kota Sabang dan Titik Nol yang Tak Terlupakan

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Punya cerita atau pengalaman tentang rasa rindu kepada kampung halaman, berbagai macam makanan khas daerahmu yang menggugah selera, hingga objek wisata yang bagai surga dunia? Atau punya cara tersendiri dalam memaknai cinta Indonesia? Pada bulan Agustus kali ini, kamu bisa membagikan semuanya dalam Lomba Share Your Stories bulan Agustus dengan tema Cinta Indonesia seperti tulisan yang dikirim oleh Sahabat Fimela ini.

***

Oleh: Fuatuttaqwiyah

Sabang adalah salah satu tempat yang ingin kukunjungi setelah pandemi usai. Pasalnya saat ke sana 2009, aku belum puas menikmati keindahan tempat tersebut. Aku ingin berlama-lama menikmati keindahan alam yang terbentang di bumi Nol Indonesia itu. Alam yang masih alami dan masih terpelihara hingga kini.

Aku bisa berlama menatap pantai. Kakiku bisa bermain dengan air laut tanpa takut tercemar. Aku bebas melangkah tanpa terbebani. Setiap tempat di Sabang adalah keindahan. Jejak pasir yang kuinjak begitu gampang dibersihkan. Aku bisa menikmati keindahan tanpa takut diusir oleh petugas. Bagiku, Sabang seperti hamparan surga nan indah.

Ketenangan

Menyepi adalah hal yang bisa kulakukan. Aku bisa rehat dari segala kepenatan kerja. Aku tinggal menyusuri pantai di Kota Sabang, menikmati semilir angin, memandang matahari terbenam di sore hari. Hatiku bisa tenang hanya dengan meilihat birunya langit di angkasa dan birunya lautan luas.

Aku memang penyuka pantai dan langit biru. Cukup memandangnya, hatiku langsung tenang. Lazuardi di angkasa membuat jiwaku tenang dan tenteram. Segala stres pun hilang.

Kota yang Aman

Sabang adalah kota yang sangat aman. Pasalnya hanya ada satu pintu masuk dan keluar, yakni Pelabuhan Sabang. Otomatis pelaku kejahatan langsung tertangkap di pelabuhan. Jumlah kapal yang sangat terbatas dengan jadwal tertentu membuat pelaku kejahatan berpikir ratusan kali untuk melakukan kejahatan di Sabang.

Serba Alami

Alam yang alami adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa untuk penduduk Sabang. Sepanjang perjalanan menuju Titik Nol, aku melihat kehidupan yang serba alami. Aku bisa melihat monyet berkeliaran secara bebas. Pengunjung hanya perlu memberikan kacang kepada mereka. Mereka tidak menganggu kok.

Belum lagi aku melihat babi hutan dan binatang lain hidup secara liar di sekitar jalan menuju Titik Nol. Tidak perlu takut. Binatang itu tidak mengganggu kok.

Keramahan Penduduk Lokal

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/VitalyRomanovich
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/VitalyRomanovich

Penduduk lokal sangat ramah terhadap pengunjung. Kota Sabang memang menerima turis lokal maupun mancanegara. Bahkan banyak turis mancanegara yang menikah dengan perempuan Sabang. Enggak heran kalau di kota kecil ini akan banyak bertemu bule dari berbagai negara. Sst, di kota kecil ini juga banyak ditemukan mobil mewah lho. Namun, mobil tersebut hanya bisa dipakai di Kota Sabang dan Pulau Weh saja.

Titik Nol

Ikon Kota Sabang adalah Titik Nol. Rasanya kurang afdal kalau ke sana tanpa mengunjungi Tugu Titik Nol. Perjalanan bisa ditempuh menggunakan sepeda motor ataupun mobil. Medannya naik turun sebelum sampai ke Tugu Titik Nol.

Sebaiknya jangan sendiri ketika menuju Titik Nol. Minimal berdua. Karena di tempat tersebut benar-benar sunyi. Pengunjung pun masih sangat jarang, Terutama di hari kerja.

Lelahnya perjalanan akan terhapuskan ketika memandang lautan luas nan biru dari sisi Titik Nol. Laut yang begitu indah, mahakarya Yang Kuasa. Tak henti bibir bersyukur kepada-Nya.

Udara yang sejuk di Titik Nol membuat betah menepi di sana. Selain bisa berfoto, tempat tersebut juga dikelilingi pepohonan yang rindang. Cocok untuk rehat dan merenung. Saranku kalau ke sana, bawa camilan dan minuman air putih. Jangan lupa untuk membuang sampah di tempat yang disediakan.

Letaknya di ujung Indonesia. Memulai perjalanan menyusuri Indonesia dari Titik Nol. Bermula dari Sabang berakhir di Merauke. Entah kapan bisa melakukan perjalanan ke ujung timur Indonesia. Setidaknya aku sudah memulai menyusuri Indonesia dari ujung barat.

Sertifikat Kunjungan Titik Nol

Dinas Pariwisata Sabang menyediakan sertifikat kunjungan Titik Nol kepada para pengunjung Titik Nol. Aku beruntung bisa mendapatkannya. Sertifikat ini sebenarnya enggak wajib. Namun, bisa jadi dokumentasi perjalanan hidupku. Bukti aku pernah ke Sabang.

Cara mendapatkan sertifikat adalah mengunjungi Dinas Pariwisata Kota Sabang. Kalau bingung, bisa menanyakan kepada pemilik penginapan, tempat kita menginap. Aku waktu itu dibantu sama pemilik penginapan. Jadi, bisa langsung dihubungkan kepada pegawai Dinas Pariwisata yang mengurus Sertifikat Titik Nol. Cukup membayar harga cetak sertifikat dan ongkos kirim. Kebetulan waktu itu blangko sertifikat sedang kosong. Kalau pas ada, bisa langsung dibuatkan.

Mencintai Indonesia sangat mudah. Mari jaga alam Indonesia dengan merawat, mengenalkan kepada dunia. Ceritakan hal yang indah kepada dunia agar banyak yang mengenal keramahan penduduk Indonesia dan keindahan alam anugerah Tuhan Yang Maha Esa untuk bumi Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi?

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel