Hampir 2.000 Orang Meninggal di Inggris Setelah Transfusi Darah

Merdeka.com - Merdeka.com - Hasil riset menemukan, sekitar 1.820 orang meninggal di Inggris setelah menerima donor darah yang terkontaminasi penyakit, yang terjadi antara 1970 dan 1991.

Para penulis laporan riset ini menghitung, 26.800 orang atau kemungkinan lebih banyak, mungkin telah terinfeksi hepatitis C setelah transfusi darah saat melahirkan atau saat melakukan operasi di rumah sakit.

Namun bulan lalu pemerintah Inggris setuju untuk membayar kompensasi kepada para korban. Dikutip dari BBC, Minggu (18/9), kompensasi dibayarkan pada Agustus lalu kepada 3.000 lebih korban penyintas yang masing-masing menerima 100.000 poundsterling atau sekitar Rp1,7 miliar.

Masalah ini disebut sebagai bencana perawatan terburuk dalam sejarah NHS (Pelayanan Kesehatan Nasional) Inggris.

Satu kelompok yang terinfeksi diberi suntikan rutin pengobatan yang terkontaminasi untuk hemofilia atau pembekuan darah pada 1970-an dan 1980-an. Sedikitnya 3.650 pasien dari kelompok ini terinfeksi HIV, hepatitis C, maupun keduanya. Diperkirakan lebih dari 1.500 orang meninggal karena penyakit tersebut.

Kelompok kedua tertular hepatitis C melalui transfusi kantong darah saat operasi atau melahirkan. Hepatitis C utamanya menginfeksi hati dan jika tidak ditangani dapat menyebabkan kanker. Penyakit ini juga kadang disebut pembunuh senyap karena sebagian besar orang yang terkena penyakit ini tidak menyadari mereka terinfeksi sampai merasakan gejala puluhan tahun kemudian.

Pemodelan baru untuk penyelidikan publik memperkirakan antara 21.300 dan 38.800 orang terinfeksi setelah diberi transfusi antara tahun 1970 dan 1991, dengan perkiraan tengah sekitar 26.800.

Studi yang dilakukan oleh sekelompok 10 akademisi yang ditugaskan oleh penyelidikan publik, menghitung 1.820 dari pasien tersebut meninggal. Namun korban yang meninggal diperkirakan bisa mencapai 3.320.

Temuan ini didasarkan pada tingkat infeksi hepatitis C pada populasi, jumlah donor darah yang dilakukan selama kurun waktu itu, tingkat kelangsungan hidup penyakit dan faktor lainnya.

Selain itu ditemukan sedikitnya 79 orang dan kemungkinan bisa lebih dari 100 orang juga terinfeksi HIV melalui transfusi darah, berdasarkan data Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA), di mana sebagian besar infeksi terjadi antara 1985 dan 1987.

Sekarang semua donor darah diperiksa apakah terinfeksi HIV dan penyakit lainnya seperti hepatitis dan sifilis.

Penyelidikan publik terkait skandal donor darah ini mulai mengumpulkan bukti pada 2019 dan laporan akhirnya diperkirakan akan dipublikasikan pada 2023. [pan]