Hampir Sekompi Polisi Terseret Kasus Ferdy Sambo, Bagaimana Nasib Mereka?

Merdeka.com - Merdeka.com - Kasus dugaan pelanggaran etik anggota Polri dalam kasus tewasnya Brigadir J alias Nopryansyah Yosua Hutabarat masih terus berproses. Sebanyak 15 saksi telah dimintai keterangan dalam sidang etik Irjen Pol Ferdy Sambo, pada Kamis (25/8) lalu.

Dari keterangan para saksi, berujung putusan terhadap status Pemecatan Tidak Dengan Hormat (PTDH), terhadap Irjen Ferdy Sambo. Mantan Kadiv Propam ini lantas mengajukan banding.

Komisioner Kompolnas Yusuf Warsyim menduga, dari ke-15 saksi yang digali keterangannya akan ada yang menyusul Ferdy Sambo untuk diputus turut melanggar etik di sidang berikutnya.

"Dari saksi-saksi yang diperiksa itu kita temukan diantaranya diduga juga akan menjadi terduga pelanggar sidang kode etik berikutnya," kata Yusuf saat dihubungi, dikutip Minggu (28/8).

Dari ke-15 saksi yang hadir dalam pemeriksaan, terbagi menjadi tiga tempat. Saksi yang ditempatkan khusus di Mako Brimob yakni Brigjen Hendra Kurniawan, Brigjen Benny Ali, Kombes Agus Nurpatria, Kombes Susanto, dan Kombes Budhi Herdi.

Kemudian saksi dari tempat khusus Provos Polri antara lain AKBP Ridwan Soplanit, AKBP Arif Rahman, AKBP Arif Cahya, Kompol Chuk Putranto, AKP Rifaizal Samual.

Lalu, mereka yang ditempatkan khusus Bareskrim yakni Bripka Ricky Rizal, Kuat Maruf, Bharada Richard Eliezer. Sementara dua saksi lainnya berada di luar tempat khusus mereka adalah HM dan MB. Yusuf membocorkan jika ada diantara mereka yang saat ini tengah didalami berkas pelanggaran etiknya.

"Dalam pantauan kami, saksi-saksi yang diperiksa itu masih dalam pemberkasan. Yang kemungkinan Apabila sudah lengkap, bakal dibentuk komisi kode etik terhadap bawahan-bawahan yang diperintahkan atau bawahan yang ada di Divpropam pada saat Ferdy Sambo sebagai Kadivpropamnya," bebernya.

"Kita masih menunggu itu, selanjutnya akan kita pantau sidang komisi kode etik terhadap bawahan-bawahan Irjen Pol Ferdy Sambo yang terutama yang ada di bawah Divpropam itu," tambah dia.

Menurutnya, sidang pelanggaran etik atas kasus kematian Brigadir J tidak akan berhenti pada dalang perancang skenario yakni Irjen Ferdy Sambo. Mengingat Tim Khusus (Timsus) maupun Inspektorat Khusus (Itsus) telah memeriksa puluhan personel.

Sedangkan dalam pendalaman pelanggaran etik, setidaknya tercatat hampir satu kompi. Total 97 anggota polisi telah diperiksa, dimana angka itu hampir satu kompi dalam satuan mililiter yakni 100 personel.

Mereka diduga menerima perintah dari eks Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo untuk menghilangkan barang bukti, merekayasa dan menghalangi penyelidikan pembunuhan Brigadir J.

"Ya kan mereka kan para anggota dan personel, maupun perwira maupun bintara yang diperiksa Timsus dan Itsus itukan terkait dengan juga penanganan kode etik mereka," tutur Yusuf.

Yusuf menduga dari ke-15 saksi yang memberikan keterangan saat sidang etik Ferdy Sambo bakal ada yang menyusul untuk segera naik ke sidang etik, guna memutuskan pelanggaran yang dilakukan.

"Makanya kemarin mereka memberikan keterangan sebagai saksi. Ini kan propam masih terus bekerja untuk pemberkasan mereka kalau sudah lengkap dengan bukti-buktinya dibuatlah komisi kode etik untuk menyidangkan diantara para saksi itu. Nah itulah yang kita tunggu," terangnya.

97 Orang Terseret Kasus Ferdy Sambo

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan timsus telah memeriksa 97 anggota Polri yang diduga terlibat dalam kasus penembakan Brigadir J. Hasilnya, 35 orang diduga telah melanggar kode etik Polri.

"Pemeriksaan internal kami kembangkan. Kami sudah memeriksa 97 personel. 35 orang diduga melanggar kode etik profesi," ujar Sigit dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (24/8).

Anggota yang diduga melanggar etik itu dari berbagai jenjang pangkat. Dari Irjen sampai Bharada.

"Dengan rincian berdasarkan pangkat, Irjen pol satu, Brigjen pol tiga, Kombes 6, AKBP 7, Kompol 4, AKP 5, Iptu 2, Ipda 1, Bripka 1, Brigadir 1, Briptu 2, Bharada 2," kata Sigit.

18 anggota Polri yang terlibat masalah etik telah ditempatkan khusus. Sisanya masih dalam proses. Dua menjadi tersangka dalam laporan di Bareskrim.

"Dari 35 personel itu, 18 saat ini ditempatkan khusus. Yang lain masih berproses. Dua saat ini telah ditetapkan tersangka terkait dengan laporan di Bareskrim sehingga tinggal 16 yang di Pansus, sisanya menjadi tahanan terkait laporan di Bareskrim," kata Sigit.

Sambo Minta Maaf pada Polisi Terdampak

Irjen Ferdy Sambo menuliskan sepucuk surat berisi permintaan maaf kepada polisi-polisi yang dilibatkan merekayasa kasus pembunuhan Brigadir Yoshua atau Brigadir J. Ferdy Sambo mengaku menyesal dan siap bertanggungjawab atas dampak dari skenario jahatnya tersebut.

Surat permintaan maaf itu ditandatangani oleh Ferdy Sambo pada 22 Agustus 2022. Surat itu ditulis sendiri oleh Sambo.

Isi Surat Ferdy Sambo

Permohonan maaf kepada senior dan rekan perwira tinggi perwira menengah perwira pertama dan rekan Bintara

Rekan dan senior yang saya hormati dengan niat yang murni. Saya ingin menyampaikan rasa penyesalan dan permohonan maaf yang mendalam atas dampak yang muncul secara langsung pada jabatan yang senior, dan rekan-rekan jalankan dalam institusi Polri, atas perbuatan saya yang telah saya lakukan. Saya meminta maaf kepada para senior, dan rekan-rekan semua yang secara langsung merasakan akibatnya. Saya mohon permintaan maaf saya dapat diterima dan saya menyatakan siap untuk menjalankan setiap konsekuensi sesuai hukum yang berlaku saya juga siap menerima tanggung jawab dan menanggung seluruh akibat hukum yang dilimpahkan kepada senior rekan-rekan yang terdampak semoga kiranya rasa penyesalan dan permohonan maaf ini dapat diterima dengan terbuka dan saya siap-siap menjalani proses hukum ini dengan baik sehingga segera mendapatkan keputusan yang membawa rasa keadilan bagi semua pihak Terima kasih semoga tuhan senantiasa melindungi kita semua hormat saya versi Inspektur Jenderal polisi. [noe]