Hampir Setengah Jumlah Orang Dewasa Pernah Jadi Korban Body Shaming

Liputan6.com, Jakarta Lebih dari separuh orang dewasa pernah menjadi korban body shaming atau olokan/kritik mengenai warna kulit, ukuran badan, bahkan bentuk kaki.

Dalam survei yang melibatkan 2.000 orang dewasa, sekitar 56 persen mengatakan pernah menjadi korban body shaming dalam setahun terakhir. Lalu, ada satu dari 10 partisipan yang pernah menjadi korban body shamin dalam satu minggu terakhir.

Dari survei yang dilakukan perusahaan kesehatan WW diketahui bahwa berat badan yang kerap jadi terget ketika seseorang melakukan body shaming. Paling tidak ada enam dari 10 orang yang pernah mendapatkan komentar buruk tentang badannya. Entah itu terlalu gemuk atau kurus seperti dikutip laman Independent, Rabu (6/11/2019).

Selain itu, warna rambut, kulit serta tinggi badan jadi objek lain yang kerap jadi sasaran olok-olok maupun kritik. Bahkan, ada juga yang pernah mendapatkan komentar buruk soal ukuran kaki hingga alis.

"Jelas bahwa ada banyak orang yang berjuang tentang kepercayaan diri terhadap tubuh. Komentar pedas orang-orang soal fisik benar-benar menyedihkan," kata Direktur Global WW, Zoe Griffiths.

"Kami tentu saja melawan body shaming baik di tempat kerja hingga lingkungan pertemanan," kata Zoe.

Efek Body Shaming

Ilustrasi body shaming/copyright shutterstock

Mendengar kritik maupun olok-olok soal fisik tidak selalu berdampak negatif pada kesehatan mental korban. Namun, ada dua dari lima partisipan yang merasa insecure, malu, dan terhina setelah dikritik atau diolok-olok soal kondisi fisiknya.

Meski begitu, ada seperempat partisipan yang 'masa bodo' dengan ucapan para pengkritik. Bagi orang-orang ini, mereka merasa nyaman dengan tubuhnya.

Saksikan juga video menarik berikut: