Hana Shalabi, Penjara Israel dan Pelecehan

REPUBLIKA.CO.ID, TEPI BARAT— Ibu dari tahanan Palestina di Israel, Badiya Shalabi Al-Haq menuntut dunia untuk menyelamatkan anaknya, Hana Shalabi. "Saya menuntut agar dunia mendukung dia sekarang, anak saya sedang sekarat di dalam penjara. Kami juga sekarat di sini. Ini adalah seruan saya kepada dunia," katanya kepada badan HAM dunia.

Hana telah lakukan aksi mogok makan selama 21 hari sejak pasukan Israel menahan dia dari rumahnya di Tepi Barat. Dewan Organisasi Hak Asasi manusia Palestina mengatakan, Hana dipukuli, ditutup matanya dan diserang oleh tentara Israel. Di dalam penjara, ia juga mengalami pelecehan seksual. Petugas penjara meminta Hana menanggalkan pakaiannya di depan banyak petugas.

Pengacara Shalabi, Mahmoud Hassan mengatakan dia bertekad untuk mempertahankan aksi mogok makan sampai dia dilepaskan. Pada hari Rabu lalu seorang hakim militer Israel menunda keputusan terkait tentang permohonannya.

Dia muncul dalam kondisi lemah dan kelelahan di pengadilan serta diborgol, Hassan mengatakan, menambahkan bahwa Shalabi telah kehilangan lebih dari 10 kilogram berat badannya. Shalabi dijatuhi hukuman empat bulan penahanan administratif. Dia belum didakwa dengan pelanggaran apapun.

Hana Shalabi sebelumnya menghabiskan lebih dari dua tahun dalam penahanan administratif di Israel dan dirilis pada bulan Oktober di bawah kesepakatan pertukaran tahanan antara Israel dan Hamas. Dalam banding bersama Kamis kemarin, organisasi hak asasi manusia Palestina mendesak dunia untuk berdiri dalam solidaritas dengan Shalabi dan menyerukan pembebasan dirinya segera.

Pada akhirnya, ibu Shalabi juga menolak makan. "Selama anak saya mogok makan, saya tidak akan dapat memakan makanan yang ada. Saya seorang ibu, setiap kali saya melihat makanan saya berpikir tentang Hana." Shalabi merasa hidupnya runtuh dan setiap malam menangis untuknya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.