Hancurkan Gedung Palestina, Israel Tambah 1 Juta Pemukim di Tepi Barat

Liputan6.com, Jakarta - Perdana Menteri (PM) Palestina Mohammed Ishtaye mengungkap niat Israel menambah jumlah pemukimnya di Tepi Barat menjadi 1 juta orang. Penambahan jumlah pemukim itu dilakukan Israel dengan menghancurkan sejumlah fasilitas, gedung dan bangunan Palestina.

"Israel menghancurkan sebagian besar gedung dan fasilitas di area Lembah Yordan dan Area C di Tepi Barat untuk menambah jumlah pemukim di wilayah tersebut hingga akhir tahun ini menjadi 1 juta orang," kata Ishtaye dalam sebuah pernyataan yang dirilis usai rapat kabinet mingguan di Ramallah, seperti dilansir Xinhua.

Ia menuding pemerintah Israel memblokir kemungkinan apa pun untuk membentuk "Negara Palestina yang merdeka."

Area C mencakup lebih dari 60 persen wilayah Tepi Barat yang luasnya 5.655 kilometer persegi.

Di bawah Perjanjian Oslo yang ditandatangani antara Organisasi Pembebasan Palestina (Palestine Liberation Organization/PLO) dan Israel pada 1990-an, wilayah Tepi Barat terbagi menjadi tiga area, yaitu Area A di bawah kendali Palestina, Area B di bawah kendali bersama Palestina-Israel, dan Area C yang sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Israel.

 

Kecaman Dewan Keamanan PBB

Pengunjuk rasa Palestina melempari kendaraan lapis baja Israel saat berdemonstrasi di Ramallah, Tepi Barat, Kamis (17/10/2019). Pengunjuk rasa menentang pembangunan pos terdepan Israel di dekat desa Palestina, Turmus Ayya, dan pemukiman Israel, Shilo. (JAAFAR ASHTIYEH/AFP)

Menurut data terkini, jumlah pemukim Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur telah mencapai lebih dari 500.000 orang.

Beberapa konvensi internasional, termasuk resolusi Dewan Keamanan PBB yang dikeluarkan tak lama sebelum Donald Trump terpilih menjadi presiden Amerika Serikat (AS), mengecam permukiman Israel di Tepi Barat.

Hubungan politik antara Palestina dan AS memburuk setelah Trump menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017.

Dinilai sebagai salah satu masalah pelik dalam konflik Israel-Palestina, sengketa permukiman merupakan alasan utama gagalnya dialog perdamaian antara kedua pihak pada 2014. 

Saksikan video pilihan di bawah ini: