Hangatnya Makanan Ethiopia di Frankfurt

TEMPO.CO, Frankfurt--Gerimis membasahi Frankfurt di sebuah sore akhir Juli lalu. Sebagian besar pejalan kaki seperti tak peduli. Siang yang panas sebelumnya, membuat mereka tak hirau dengan gerimis sekejap menjelang gelap itu.

Saya dan rombongan memilih selamat dari hujan dengan membawa payung. Tak terasa hampir setengah kilometer kami menyusuri jalan menuju pinggir Sungai Rhein, sungai utama yang melintasi kota-kota di Jerman termasuk Frankfurt. Hingga akhirnya sampailah kami di restoran pojok jalan Baselerplatz, Gojo Restaurant & Bar.

Suasana hangat langsung menyergap ketika kami memasuki ruangan persegi panjang bernuansa coklat tua itu. Sebuah bar di tengah ruangan. Kami yang berjumlah 17 orang duduk memanjang tepat di depan bar.

Sang empunya restoran, Eyob Zeray, langsung menyambut kami. Ia menyodorkan menu minuman karena kami sepakat memilih menu andalan restoran sebagai "makan besar" malam itu.

Banyak rupa minuman di dalam menu, Eyob pun menyarankan "Apple Wine" khas cita rasa Frankfurt. Beberapa kawan saya langsung setuju dan memesan minuman tersebut. Saya memilih jus buah pisang campur bernama kiba. Rasanya segar. Jadilah kami menikmati minuman masing-masing sambil bercakap-cakap menunggu makanan sebenarnya.

Lima belas menit berselang, menu utama akhirnya datang. Empat baki bulat berukuran besar terbuat dari bambu, seperti tampah, datang ke meja kami. Satu baki buat empat atau lima orang. Ini dia menu andalan Restoran Gojo yang menjual makanan khas Ethiopia, Injera.

Saya langsung penasaran. Rupanya isi baki beragam dan berwarna-warni. Di tengah-tengah, ada gulai daging domba. Mirip semur. Melingkarinya, ada gulai daging sapi, bumbu berwarna kuning, bumbu pedas, sayur kubis dengan paprika merah, bayam rebus, dan sayur kentang bercampur wortel.

Di bawah bermacam menu itu, ada beberapa helai roti tipis, seperti kulit lumpia berwarna coklat muda. Inilah yang disebut Injera. Roti terbuat dari semacam gandum, khas dari Ethiopia. Wangi dan rupanya membuat kami tak tahan untuk segera "menghajar" isi baki tersebut.

Tapi tunggu dulu. Ada lagi yang lebih menarik dari menu makan kami malam itu. Ya, baki itu harus "diserang" beramai-ramai dengan tangan kosong alias makan dengan tangan. Tak ada istilah makan dengan sendok dan garpu. "Makannya dengan tangan," kata Eyob sambil tersenyum. Tak menunggu lama, kami pun langsung menyobek Injera dan mencampurnya dengan lauk-pauk.

Seketika, saya pun langsung terkenang kampung halaman. Dengan mulut penuh, saya mengatakan kepada rombongan kami jika cara makan seperti ini biasa bagi masyarakat Indonesia. Seorang kawan yang berasal dari Bangladesh menimpali. Menurutnya cara ini juga biasa dilakukan warga mereka. Kawan lain yang berasal dari Nigeria juga mengamini. "Di negaraku juga biasa makan seperti ini," kata Vanessa yang berasal dari Abuja, Nigeria.

Kami pun tertawa bersama. Ternyata makan dengan tangan benar-benar ciri khas masyarakat negara-negara berkembang. Jadilah kami yang berasal dari tujuh negara yaitu Indonesia, Vietnam, Nigeria, Zambia, Uzbekistan, India, dan Bangladesh cepat beradaptasi.

Masakan Ethiopia itu nikmat nian. Daging domba dan sapinya sangat empuk. Sama sekali tak menyulitkan kami mengunyah seratnya. Tentu saja, sayur menjadi penawar gurih dari dua jenis daging itu. Dan roti Injera yang sedikit terasa asam menjadi pasangan makan yang pas dan membuat perut terasa cepat penuh. Baki pun cepat ludes. Kami kekenyangan.

Kesenangan kami rupanya tak berhenti. Eyob memberi "hadiah" cuma-cuma. Wangi kopi yang semerbak saat kami lahap menyantap Igera ternyata khusus disiapkannya untuk rombongan kami. Kopi asli dari Ethiopia itu diracik sendiri adik Eyob, Beza Zeray secara tradisional. Biji kopi dipanggang , digiling, lalu diseduh saat itu juga.

Tak lama, kopi panas pun terhidang dalam wadah cangkir-cangkir mungil berwarna putih. Hitam kelam kopi terlihat kontras dengan warna cangkir amat menarik perhatian. Dan rasanya? Pas dengan wanginya. Sangat nikmat.

Eyob yang baru empat tahun membuka restoran sengaja menjual makanan khas dari negaranya sebagai menu utama di samping menu Eropa. Menurut pria ramah ini, ia ingin memberikan alternatif bagi warga Frankfurt dan wisatawan asing.

Makanan dan minuman di restoran ini berkisar 2-15 Euro, cukup sepadan dengan kocek pengunjung. "Restoran Eropa sudah banyak, jadi saya beri pilihan menarik yaitu makanan enak dari negara saya," ujarnya.

Bagi saya, acara makan malam kali ini luar biasa. Cita rasa makanan Ethiopia, salah satu negara di Afrika itu, tak jauh berbeda dengan masakan Indonesia. Pengalaman ini semakin menarik karena kami menikmatinya di Frankfurt, salah satu kota terbesar di Jerman yang terkenal sebagai kota perdagangan. Seperti menikmati perpaduan makanan dan budaya tiga benua Afrika, Asia, Eropa dalam satu rasa yang ciamik.

MUNAWWAROH

Baca juga:

[GALERI] 10 kota dengan makanan pinggir jalan terbaik
[GALERI] Farah Quinn di Auckland
Jelajah surga makanan di Dongmen, Shenzhen
Pesona danau terluas di Asia Tenggara
Gdansk, kota tercantik di tepi Laut Baltik
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.