Hanura Sebut Gede Pasek Suardika Keluar Karena Akan Buat Partai Baru

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Dewan Penasihat Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir mengatakan, I Gede Pasek Suardika mengundurkan diri dari partai dan sebagai sekretaris jenderal Hanura karena ingin mendirikan partai baru.

"Lagi persiapan bikin partai kan, ya ada partai baru, nanti cari saja nama partainya apa," ujar Inas kepada wartawan, Jumat (29/10/2021).

Menurut Inas, Pasek membawa tidak lebih dari 10 orang dari Partai Hanura untuk mendirikan partai baru.

"Setahu saya dari beberapa kawan di Hanura yang mungkin juga mengikuti Pak Pasek ya nanti akan bikin partai baru," kata dia.

Menurut Inas, partai baru yang akan didirikan Pasek akan dideklarasikan pada Desember mendatang. "Desember lah, setahu saya Desember mereka akan deklarasi," kata dia.

Gede Pasek Suardika Mundur sebagai Sekjen Hanura

Gede Pasek Suardika mundur sebagai Sekretaris Jenderal Partai Hanura. Surat pengunduran diri Gede Pasek sebagai sekjen sudah disampaikan kepada Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang.

"Saya ingin menyampaikan pengunduran diri secara terbuka sebagai Sekretaris Jenderal DPP Partai HANURA dan surat resmi permohonan pengunduran diri sudah saya sampaikan kepada Ketua Umum. Surat resmi ini merupakan kelanjutan penyampaian secara lisan saya kepada Ketua Umum di waktu sebelumnya," ujar Gede Pasek dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (29/10/2021).

Surat pengunduran diri itu disampaikan secara resmi oleh Gede Pasek pada Kamis 28 Oktober 2021. Dia tidak menjelaskan alasan pengunduran dirinya sebagai Sekjen Hanura dalam keterangannya tersebut.

"Pengunduran diri semoga perpisahan secara organisasi bukan berarti memisahkan silaturahmi dalam kemanusiaan. Saya berdoa semoga Partai HANURA semakin berkembang dan maju ditangani oleh kader-kader lain yang saya lihat sangat banyak berpotensi dan berkualitas," ujar Gede Pasek.

Dia mengatakan, keputusan itu diambilnya usai mempertimbangkan baik dan buruknya. Terlebih dia tahu, dalam politik, keputusan mengambil pilihan bagaikan buah simalakama.

"Dalam politik, memang mengambil pilihan menjadi salah satu bagian yang seringkali bagaikan buah simalakama, namun harus tetap dilakukan. Terlebih dinamika dinamika politik senantiasa berjalan dinamis. Sebab berpolitik adalah bagaimana menjalankan ide dan gagasan politik secara maksimal. Sehingga jika itu tidak bisa berjalan, maka perlu ladang pengabdian baru dilakukan, dan di sisi lain, perlu diberikan kesempatan yang lain untuk mengisi jabatan yang ditinggalkan," ujar dia.

Reporter: Ahda Bayhaqi

Sumber: Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel