Harga BBM Direncanakan Naik, Pengusaha Warteg: Kami Butuh Kepastian

Merdeka.com - Merdeka.com - Pelaku usaha kuliner Warung Tegal (Warteg) mendesak pemerintah untuk bersikap tegas terkait rencana menaikkan harga BBM subsidi jenis Pertalite maupun Solar akibat mahalnya harga minyak mentah dunia. Sebab, akibat tarik ulur wacana kenaikan BBM tersebut telah membuat harga sembako naik.

"Pedagang warteg butuh kepastian, artinya ketika pemerintah mau menaikan BBM harus ada kepastian. Jangan maju mundur, sementara harga sudah pada naik karena isu BBM akan naik," ujar Ketua Komunitas Warung Tegal Nusantara (Kowantara) Mukroni kepada Merdeka.com di Jakarta, Jumat (2/9).

Mukroni mencatat, saat ini, harga telur ayam terus berkisar antara Rp30.000-Rp sampai Rp31.000 per kilogram (kg). Padahal, dalam situasi normal bahan pangan tinggi protein hewani tersebut hanya dibanderol Rp 24.000 per kg.

Selain telur, harga komoditas cabai juga terpantau masih tinggi. Misalnya, untuk cabai merah TW di jual Rp80.000 per kg dari harga normal Rp26.000 per kg.

"Sekarang beras juga naik. Untuk yang kemasan karung ukuran 50 kg, itu naik Rp500 per kilo nya, mas," imbuhnya.

Adapun, lanjut Mukroni, sejumlah pedagang di pasar mengatakan kenaikan harga pangan ini mengikuti rencana pemerintah untuk melakukan penyesuaian harga BBM subsidi. "Jadi, mereka pedagang pasar beralasan harga naik karena BBM juga akan naik," ucapnya.

Oleh karena itu, Mukroni berharap pemerintah tidak membiarkan wacana kenaikan BBM subsidi tersebut terus berlarut-larut. "Karena ketidakpastian ini membuat harga pangan juga naik," pungkasnya.

Penjelasan Jokowi soal Harga BBM Subsidi Tak Kunjung Naik

soal harga bbm subsidi tak kunjung naik rev1
soal harga bbm subsidi tak kunjung naik rev1.jpeg

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi pun angkat bicara mengenai kepastian kenaikan harga BBM Subsidi. Dia menegaskan, soal ini masih dilakukan penghitungan.

Dalam beberapa waktu belakangan, pemerintah memang berencana menaikkan BBM Subsidi. Namun, kabar kenaikan ini masih sebatas sinyal-sinyal dari pemerintah.

"BBM semuanya masih pada proses dihitung, dikalkulasi dengan hati-hati, masih dalam proses dihitung dengan penuh kehati-hatian," kata dia kepada wartawan, mengutip Keterangan Pers yang disiarkan akun YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (1/9). [bim]