Harga BBM Naik, Pedagang Pasar: Kenaikan Harga Sembako itu Pasti

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai awal September 2022 ini. Kini, harga Pertalite dibanderol naik menjadi Rp10.000 per liter, Solar Rp6.800 per liter dan Pertamax Rp16.500 per liter.

Ketua Bidang Penguatan Usaha dan Investasi Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI) khawatir kenaikan harga BBM akan berdampak besar ke banyak sektor. Salah satunya bagi pedagang pasar. Dia memperkirakan kenaikan harga BBM bisa mengkerek kenaikan harga-harga sembako yang menjadi kebutuhan masyarakat.

"Mungkin hari ini masih belum terlalu terlihat, karena masih penyesuaian harga, namun kenaikan harga sembako itu pasti," kata Choirul dalam keterangan resminya, Jakarta, Selasa (6/9).

Dia menuturkan kenaikan harga BBM ini akan memberikan efek domino terhadap kehidupan masyarakat, seperti inflasi, biaya transportasi, hingga lonjakan harga pangan. Dia memperkirakan kenaikan harga BBM ini bisa berbuah inflasi hingga 8 persen. Apalagi per Agustus, tingkat inflasi sudah ada di level 4,69 persen.

"Ada kemungkinan pasca kenaikan harga BBM analisa dari perbankan dan ekonom menyebutkan paling buruk yaitu 6 hingga 8 persen," kata dia.

Dampaknya Sudah Mulai Terasa

Meski kenaikan harga BBM belum genap sepekan, Choirul mengatakan dampaknya sudah mulai terasa di tingkat pedagang pasar. Terlihat dengan naiknya harga daging ayam dan cabai di sejumlah daerah.

"Dampak kenaikan harga BBM untuk awal saja sudah terlihat sekali. Baru berapa hari naik, harga daging ayam di wilayah Singaparna sudah mulai naik, harga cabai di Tasikmalaya sudah naik," kata dia.

"Jangan sampai nanti ketika harga sembako sudah mulai naik malah saling menyalahkan. Pasalnya saling menyalahkan ini sudah pernah terjadi saat kenaikan harga cabai beberapa waktu lalu," imbuh Choirul.

Dia meminta pemerintah dalam menyelesaikan masalah ini tidak hanya menggunakan kebijakan populis. Melainkan harus dengan pertimbangan logis dan matang. Menurutnya kebijakan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dilakukan pemerintah untuk mengkompensasi kenaikan BBM dalam praktiknya hanya menjadi obat bius sementara bagi masyarakat.

Choirul mengatakan, setelah BLT selesai diberikan kepada masyarakat yang ditargetkan, pemerintah tidak memberikan solusi yang konkret kepada masyarakat lainnya. Dia tak ingin kebijakan ini ujungnya hanya menguntungkan segelintir orang terlibat dalam mekanisme importir energi.

"Kami harap kenaikan harga BBM ini tidak hanya menguntungkan para importir migas dan menyengsarakan masyarakat, khususnya pedagang pasar," pungkasnya. [idr]