Harga Bitcoin Merosot, Kapitalisasi Pasar Susut Rp 2.907 Triliun

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin dan mata uang digital lainnya merosot pada perdagangan Jumat, 23 April 2021. Hal ini dipicu rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menaikkan pajak capital gain sehingga memicu aksi jual. Harga bitcoin melemah dorong kapitalisasi pasar menyusut.

Bitcoin turun 7,3 persen menjadi USD 49.730 atau sekitar Rp 722.931.126 atau Rp 722,93 juta (asumsi kurs Rp 14.537 per dollar AS), berdasarkan data Coin Metrics. Bitcoin juga sentuh posisi di bawah USD 50.000 untuk pertama kali sejak awal Maret. Ether turun 8 persen menjadi USD 2.320.

XRP, mata uang kripto terbesar kelima anjlok 16 persen. Pada penutupan, bitcoin berada di atas USD 51.000 atau Rp 741,39 juta.

Berdasarkan data CoinMarketCap, pelemahan mata uang digital membuat kapitalisasi pasar susut lebih dari USD 200 miliar atau sekitar Rp 2.907 triliun.

"Pasar telah naik cukup banyak secara keseluruhan dan mungkin akan “dingin” sebelum Langkah berikutnya,” ujar Head of Business Development Luno, Vijay Ayyar dilansir dari CNBC, Minggu (25/4/2021).

Presiden Biden akan menaikkan pajak capitan gain untuk orang AS terkaya menjadi 43,4 persen termasuk pajak tambahan. Angka itu akan lebih tinggi dari pada tarif pajak federal atas pendapatan upah.

Hal tersebut juga memicu aksi jual di pasar saham dengan indeks saham utama AS tertekan pada Kamis, 22 April 2021. Analis mengatakan, kekhawatiran atas pajak capital gain mungkin meluas ke investor aset kripto. Hal ini mengingat harga bitcoin yang naik lebih dari enam kali lipat dalam 12 bulan terakhir.

Tantangan Bitcoin

Ilustrasi Bitcoin. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat
Ilustrasi Bitcoin. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Pada 2021 saja, bitcoin telah naik 66 persen, sementara Ethereum menguat lebih dari 200 persen. Kenaikan mata uang kripto itu didukung aksi beli investor institusi. Hal ini dilakukan oleh Tesla dan Square dengan membeli bitcoin senilai miliaran dollar AS.

Bank juga mencoba mengizinkan klien untuk terlibat dalam pasar bitcoin. Pada Maret, Morgan Stanley mengatakan sedang meluncurkan akses yang memungkinkan kepemilikan bitcoin.

"Segalanya menjadi lebih mapan. Semakin banyak uang yang masuk ke pasar, semakin sedikit volatilitas yang terjadi,” ujar CEO Bitpanda, Eric Demuth.

Ia menuturkan, untuk investor ritel, strateginya agar tidak selalu meletakkan semua dalam satu keranjang. “Hanya memasukkan sebagian kecil dari portofolio Anda ke dalam mata uang kripto, ke dalam bitcoin. Tidak masalah apakah Anda orang yang sangat percaya atau tidak, diversifikasi aset adalah kuncinya," ujar dia.

Namun, kekhawatiran atas tindakan keras regulasi terhadap bitcoin terus mengaburkan pasar. CEO Kraken, Jesse Powell memperingatkan pemerintah dapat menekan penggunaan bitcoin dan mata uang kripto lainnya.

India berencana merilis undang-undang untuk melarang perdagangan bahkan kepemilikan mata uang kripto. Sementara itu, Menteri Keuangan AS Janet Yellen menyebut bitcoin sebagai aset yang sangat spekulatif. Ia khawatir tentang potensi kerugian bagi investor.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini