Harga Bitcoin Turun ke Level Terendah dalam 3 Bulan Terakhir

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin terus melemah setelah rilis dari pertemuan the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral Amerika Serikat (AS) pada Desember 2021 yang dilakukan pada awal pekan ini mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan yang lebih cepat.

Dilansir dari Yahoo Finance, Jumat (7/1/2022), harga Bitcoin turun menjadi USD 41.012 atau setara Rp 588 juta (asumsi kurs Rp 14.354 per dolar Amerika) pada Jumat pekan ini. Hal tersebut merupakan level terendah sejak 29 September berdasarkan data dari CoinDesk.

Pakar ETF dan direktur CEC Capital, Laurent Kssis mengatakan sekitar USD 200 juta atau sekitar Rp 2,86 triliun Bitcoin yang berada dalam posisi beli telah dilikuidasi dalam beberapa jam terakhir yang mendorong harga spot lebih rendah.

Kssis menambahkan, leverage tetap tinggi dan penurunan lebih lanjut di bawah USD 40.000 mungkin terjadi, terlebih lagi jika imbal hasil obligasi terus meningkat karena sikap hawkish dari the Fed.

Rencana the Fed untuk mengecilkan neraca dan menaikkan suku bunga secara bersamaan dapat menyebabkan deflasi harga aset yang berkepanjangan.

"Jadi jika The Fed membiarkan harga ekuitas turun, itu akan meningkatkan biaya pinjaman pemerintah karena ketika harga obligasi turun, imbal hasil naik! Itu bisa memicu lebih banyak penjualan di BTC, ” kata Kssis.

Menurut Brent Donnelly, Presiden di Spectra Markets, kripto dalam beberapa bulan terakhir akan tetap bearish karena rencana Fed dipercepat.

Beberapa pengamat lainnya mengatakan ketakutan akan pasar bearish yang berkepanjangan dalam saham dan aset digital mungkin terlalu berlebihan karena secara historis pasar akan tetap tangguh selama siklus pengetatan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Harga Aset Kripto 7 Januari 2022

Ilustrasi Bitcoin. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat
Ilustrasi Bitcoin. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Sebelumnya, Bitcoin sebagai peringkat satu aset cryptocurrency atau uang kripto di dunia akhirnya menguat. Selain Bitcoin, beberapa aset kripto jajaran atas juga terlihat mulai menguat.

Berdasarkan pantauan data dari Coinmarketcap, Jumat pagi,7 Januari 2022, Bitcoin (BTC) menguat 0,91 persen dalam kurun waktu 24 jam terakhir, tetapi masih melemah 8,03 persen dalam 7 hari terakhir. Saat ini Bitcoin berada di level USD 43.254,71 atau setara Rp 621,5 juta (asumsi kurs Rp 14.369 per dolar AS).

Binance coin (BNB) juga terlihat menguat 2,50 persen dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Namun, dalam 7 hari terakhir, masih melemah sebesar dan 8,27 persen. Hal tersebut membuat BNB berada di level USD 475,89.

Ethereum sebagai aset kripto terbesar kedua setelah Bitcoin hingga hari ini masih belum terlihat menguat. Ethereum (ETH) melemah 2,18 persen dalam waktu 24 jam terakhir dan 6,87 persen dalam 7 hari terakhir. Sampai saat ini, ETH masih berada di level USD 3.436,86 per koinnya.

Selain BTC dan BNB yang menguat, Cardano (ADA) juga terlihat menguat cukup besar. Dalam 24 jam terakhir, ADA menguat 3,19 persen, tetapi masih melemah 4,63 persen dalam waktu 7 hari terakhir yang membuatnya berada pada level USD 1,28 per koinnya.

Terakhir, USD coin (USDC) juga memiliki history grafik yang cukup baik, USDC menguat 0,02 persen dalam 24 jam terakhir dan 0,19 persen dalam 7 hari terakhir. Hal tersebut membuat USDC berada di level USD 1,00 per koinnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel