Harga Dolar AS sebagai Acuan Nilai Tukar, Ketahui Sejarahnya

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Harga dolar menjadi salah satu acuan mata uang di dunia. Biasanya harga dolar digunakan untuk membandingkan nilai mata uang negara lain. Hingga saat ini, harga dolar AS masih menjadi pengukuran nilai tukar yang paling populer.

Memantau harga dolar menjadi aktivitas penting bagi pelaku keuangan, ekonomi, hingga perdagangan. Harga dolar kerap menjadi penentu turun naiknya harga barang dan jasa. Dolar juga menjadi salah satu patokan valuta asing di seluruh dunia.

Nilai tukar memberi tahu berapa harga dolar pada waktu tertentu di pasar luar negeri. Salah satu cara mudah untuk mengetahui nilai dolar adalah dengan memantau kurs valuta asing. Berikut ulasan mengenai harga dolar AS, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin(23/08/2021).

Mengenal mata uang dolar

ilustrasi uang | pexels.com/@natasha-che-2900496
ilustrasi uang | pexels.com/@natasha-che-2900496

Dolar adalah nama lebih dari 20 mata uang. Negara yang menggunakan dolar di antaranya seperti Amerika, Australia, Brunei, Kanada, Hong Kong, Jamaika, Liberia, Namibia, Taiwan, Selandia Baru, dan Singapura. Simbol untuk sebagian besar mata uang dolar adalah $.

Pada awalnya, yang disebut dolar adalah koin perak yang beredar di banyak negara Eropa. Saat ini, dolar AS adalah mata uang paling kuar di dunia. Sebagian besar transaksi internasional dilakukan dalam harga dolar.

Melansir The Balance, sebelum menggunakan dolar, sebagian besar negara mengikuti standar emas. Awal mula harga dolar menjadi acuan nilai mata uang adalah adanya perjanjian Bretton Woods pada 1944. Perjanjian ini diteken oleh 44 negara dan berisi kebijakan moneter pasca perang dunia II. Dalam perjanjian Bretton Woods, negara-negara yang mengklaim dirinya sebagai negara maju berkomitmen mengontrol nilai tukar mata uang lokal dengan dolar AS.

Jika nilai mata uang suatu negara menjadi terlalu lemah relatif terhadap dolar, bank akan membeli mata uangnya di pasar valuta asing. Jika harga mata uang menjadi terlalu tinggi, bank sentral harus mencetak lebih banyak. Produksi percetakan ini akan meningkatkan pasokan dan menurunkan harga mata uang.

Alasan dolar digunakan sebagai acuan

(Foto: Ilustrasi dolar AS, investasi, uang. Dok Unsplash/Pepi Stojanovski)
(Foto: Ilustrasi dolar AS, investasi, uang. Dok Unsplash/Pepi Stojanovski)

Harga dolar AS dapat dikatakan kuat ketika nilai tukar ke dolar relatif lebih tinggi terhadap mata uang lain. Dolar AS menjadi mata uang cadangan dunia. Apa alasannya?

Pasca perang dunia II, Amerika Serikat memegang tiga perempat dari pasokan emas dunia. Nilai harga dolar adalah 1/35 dari satu ons emas. Ini membuat tidak ada negara lain yang memiliki cukup emas untuk mengganti dolar sebagai acuan nilai tukar. Perjanjian Bretton Woods membuat dolar AS secara perlahan mengubah standar emas di dunia. Akibatnya, nilai dolar mulai meningkat relatif terhadap mata uang lainnya.

Pengukuran nilai dolar

Ilustrasi Dolar | unsplash.com/@sharonmccutcheon
Ilustrasi Dolar | unsplash.com/@sharonmccutcheon

Nilai harga dolar AS diukur dengan tiga cara yakni nilai tukar, catatan Treasury, dan cadangan devisa.

Nilai tukar

Nilai tukar membandingkan harga dolar dengan mata uang negara lain. Ini akan menentukan berapa banyak mata uang tertentu yang dapat ditukarkan dengan dolar. Pengukuran nilai tukar yang paling populer adalah Indeks Dolar AS. Nilai tukar ini berubah setiap hari karena mata uang diperdagangkan di pasar valuta asing.

Nilai ini tergantung pada beberapa faktor termasuk suku bunga bank sentral, tingkat utang negara, dan kekuatan ekonomi. Ketika faktor-faktor ini kuat, maka hal yang sama juga terjadi dengan nilai mata uangnya.

Cadangan mata uang asing

Dolar dipegang oleh pemerintah asing dalam cadangan mata uang mereka. Negara yang tidak menggunakan dolar sebagai mata uang utamanya menimbun dolar karena mengekspor lebih banyak daripada yang mereka impor dan menerima dolar sebagai pembayaran. Banyak negara melakukan ini untuk mempertahankan dolar untuk menjaga nilai mata uang mereka lebih rendah.

Ketika dolar menurun, nilai cadangan negara lain juga menurun. Akibatnya, mereka kurang bersedia menyimpan dolar sebagai cadangan. Mereka melakukan diversifikasi ke mata uang lain, seperti euro, yen, atau bahkan yuan Tiongkok.

Catatan Perbendaharaan

Dolar juga bergerak selaras dengan permintaan uang kertas. Departemen Keuangan AS menjual catatan untuk tingkat bunga tetap dan nilai nominal, investor menawar pada lelang perbendaharaan lebih atau kurang dari nilai nominal, dan kemudian mereka dapat menjualnya kembali di pasar sekunder.

Penyebab dolar terus menguat

Ilustrasi uang (pixabay)
Ilustrasi uang (pixabay)

Tindakan sistem cadangan pemerintah pusat

Sistem cadangan pemerintah pusat atau dikenal dengan The Fed, melakukan kebijakan moneter nasional, mengawasi dan mengatur bank, menjaga stabilitas keuangan, dan menyediakan layanan perbankan. The Fed mengambil dua tindakan —yaitu mengakhiri kebijakan moneternya yang ekspansif (menambah jumlah uang beredar) ketika ekonomi terus membaik setelah Resesi Hebat. Hal ini membatasi pasokan dollar, yang berdampak pada peningkatan nilainya.

Kedua, The Fed juga menaikkan suku bunga pada Desember 2015 yang memperkuat nilai dollar lebih lanjut. Ini meningkatkan permintaan dollar dan membiarkan penabung mendapatkan tingkat pengembalian deposito dollar yang lebih tinggi daripada deposito euro, yang membayar suku bunga lebih rendah.

Mata uang euro

Harga dolar secara otomatis menguat ketika euro melemah —ini karena euro membentuk 57,6% dari nilai indeks dollar AS. Ini memberi euro pengaruh besar pada nilai dollar —apa pun yang membuat euro lebih lemah akan membuat dollar lebih kuat, dan sebaliknya. Masing-masing mata uang lain yang membentuk USDX memiliki pengaruh yang lebih kecil pada nilai dollar.

Perdagangan Forex

Pedagang valuta asing (pedagang yang memperdagangkan derivatif mata uang asing) mengintensifkan kekuatan dollar dengan menggunakan leverage (menggunakan utang untuk berdagang) untuk semakin melemahkan euro dan memperkuat harga dollar.

Harga dolar terbaru

Karyawan bank menunjukkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Senin (2/11/2020). Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (2/11) sore ditutup melemah 0,1 persen ke level Rp14.640 per dolar AS, dari perdagangan sebelumnya yaitu Rp14.690 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Karyawan bank menunjukkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Senin (2/11/2020). Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (2/11) sore ditutup melemah 0,1 persen ke level Rp14.640 per dolar AS, dari perdagangan sebelumnya yaitu Rp14.690 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Berikut harga dolar dan mata uang asing lainnya, per 23 Agustus 2021, dikutip dari situs Bank Indonesia:

Dolar AS (USD)

Harga jual: Rp 14.536,32

Harga beli: Rp 14.391,68

Dolar Australia (AUD)

Harga jual: Rp 10.351,31

Harga beli: Rp 10.551,86

Euro (EUR)

Harga jual: Rp 16.971,15

Harga beli: Rp 16.800,85

British Pound (GBP)

Harga jual: Rp 19.802,83

Harga beli: Rp 19.600,03

Dolar Hong Kong (HKD)

Harga jual: Rp 1.865,74

Harga beli: Rp 1.847,08

Yen Jepang (JPY)

Harga jual: Rp 13.253,39

Harga beli: Rp 13.117,93

Won Korea (KWD)

Harga jual: Rp 12,29

Harga beli: Rp 12,16

Yuan Tiongkok (CNY)

Harga jual: Rp 2.237,05

Harga beli: Rp 2.214,58

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel