Harga Emas Anjlok, Waktunya Investasi?

Merdeka.com - Merdeka.com - Harga jual emas 24 karat per Rabu 28 September 2022 tercatat mengalami kenaikan harga. Harga jual 1 gram sebesar Rp 932.000. Sedangkan, harga beli emas dipatok sebesar Rp796.000 per gram. Kedua harga tersebut naik sebesar Rp2.000 dibandingkan sebelumnya yang sempat mengalami penurunan.

Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra menilai penyebab turunnya harga emas disebabkan oleh ekspektasi pasar terhadap kelanjutan kenaikan suku bunga acuan AS yang agresif hingga akhir tahun ini. Ekspektasi pasar saat ini berada di posisi 4,4 persen yang sebelumnya berada di angka 3,25 persen.

"Dengan kebijakan The Fed yang agresif mendorong pelaku pasar keluar dari pasar emas dan masuk ke aset dollar AS sehingga harga emas turun," jelasnya, saat dihubungi Merdeka.com, Kamis (29/9).

Meski begitu menurutnya, emas masih memiliki prospek investasi jangka panjang yang bagus. Ariston menyarankan saat ini waktu yang tepat untuk membeli emas dan mengumpulkannya untuk kebutuhan investasi.

"Saat ini harga turun, pas untuk mengumpulkan. Tapi bukan beli sekaligus karena potensi turun masih ada," ujarnya.

Ariston menambahkan potensi penurunan harga emas masih mungkin terjadi. Hal tersebut masih akan berlangsung selama ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed yang agresif masih ada. Jadi menurutnya, masyarakat bisa mencicil pembelian emas dari sekarang, dan menahan penjualan untuk jangka waktu 2-3 tahun.

"Emas masih aset aman. Cuma saat ini, ada aset aman yang lebih menarik yaitu aset di dollar AS," tutupnya.

Diketahui, harga emas sedikit menguat pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), bangkit dari kerugian dua sesi berturut-turut setelah reli dolar berhenti dan saham-saham AS merosot, namun masih di bawah level psikologis baru USD1.650.

Harga Emas

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, terdongkrak USD2,80 atau 0,17 persen, menjadi ditutup pada USD1.636,20 per ounce, setelah mencapai tertinggi sesi di USD1.650,10 dan terendah sesi di USD1.628,70.

Emas berjangka merosot USD22,20 atau 1,34 persen menjadi USD1.633,40 pada Senin (26/9), setelah anjlok USD25,50 atau 1,52 persen menjadi USD1,655,60 pada Jumat (23/9), dan terangkat USD5,40 atau 0,32 persen menjadi USD1.681,10. Ini bukan reli dan lebih seperti rebound sementara karena tekanan jual berhenti, analis pasar mengatakan, berpendapat bahwa emas kemungkinan tidak akan turun sebelum pasar yakin dengan tren suku bunga.

Sementara itu, data ekonomi yang dirilis Selasa (27/9) beragam. Indeks Keyakinan Konsumen Conference Board meningkat pada September untuk bulan kedua berturut-turut menjadi 108,0, naik dari 103,6 pada Agustus.

Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa pesanan baru AS untuk barang tahan lama, produk yang dimaksudkan untuk bertahan setidaknya tiga tahun, turun 0,2 persen menjadi USD272,7 miliar yang disesuaikan secara musiman pada Agustus dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Departemen Perdagangan AS juga melaporkan penjualan rumah baru AS melonjak 28,8 persen ke tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 685.000 unit pada Agustus. Fokus sekarang pada pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada Rabu untuk isyarat lebih lanjut tentang kebijakan moneter AS. Powell telah memberikan nada yang sangat hawkish selama pertemuan The Fed minggu lalu,

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember tergelincir 14,3 sen atau 0,77 persen, menjadi ditutup pada USD18,337 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober jatuh USD3,20 atau 0,38 persen, menjadi ditutup pada USD846,90 per ounce.

Reporter Magang: Hana Tiara Hanifah

Sumber: Liputan6.com [azz]