Harga emas di Asia cenderung datar, tertekan imbal hasil obligasi AS

·Bacaan 2 menit

Harga emas cenderung datar diperdagangkan dalam kisaran ketat di sesi Asia pada Rabu pagi, karena kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan peningkatan selera risiko mengimbangi kekhawatiran tentang varian Virus Corona Omicron yang menyebar dengan cepat.

Harga emas berjangka AS diperdagangkan tidak berubah di 1.789,50 dolar AS per ounce pada pukul 01.26 GMT. Di pasar spot harga emas sedikit berubah pada 1.789,12 dolar AS per ounce.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih tinggi pada Selasa (21/12/2021) karena para pedagang fokus pada kondisi ekonomi yang optimis dan mengabaikan kekhawatiran inflasi pada lelang obligasi 20 tahun. Imbal hasil yang lebih tinggi meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak membayar bunga.

Pasar saham global naik, dengan saham Eropa dan AS rebound karena meningkatnya selera risiko baru, meskipun jumlah kasus Omicron melonjak di seluruh dunia.

Baca juga: Saham global naik seiring kembalinya selera risiko investor

Negara-negara di seluruh Eropa mempertimbangkan pembatasan baru pergerakan manusia pada Selasa (21/12/2021), sementara Presiden AS Joe Biden mengimbau semua orang Amerika untuk mendapatkan vaksinasi guna memerangi varian Omicron yang melanda dunia beberapa hari sebelum Natal kedua di masa pandemi.

Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan AS akan mengesahkan pil pengobatan COVID-19 dari Pfizer Inc dan Merck paling cepat pada Rabu waktu setempat, Bloomberg News melaporkan, mengutip orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya melemah, memulai sesi ketiga berturut-turut di bawah tekanan karena investor menyukai mata uang dan kelas aset yang lebih berisiko.

Harga logam mulia lainnya di pasar spot, perak turun 0,1 persen menjadi diperdagangkan di 22,47 dolar AS per ounce, platinum turun 0,3 persen menjadi diperdagangkan di 931,99 dolar AS per ounce dan paladium naik 0,2 persen menjadi diperdagangkan di 1.795,17 dolar AS per ounce.

Baca juga: Rupiah ditutup menguat 98 poin di tengah kekhawatiran sebaran Omicron

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel