Harga Emas Diprediksi Melambung Pekan Ini karena Ekspektasi Tapering The Fed Mundur

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Setelah mengalami tekanan yang berat dalam beberapa pekan terakhir, harga emas diperkirakan akan masuk ke momen bullish atau penguatan. Analis di Wall Street dan investor komoditas melihat bahwa harga emas bakal bergerak menguat pada pekan ini.

Analis mengatakan bahwa emas bisa saja memulai kenaikan baru dengan kemungkinan bisa menembus target USD 1.900 per ounce. Hal ini karena terjadi karena investor melihat bahwa Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) akan melakukan menunda tapering ke tahun depan.

Langkah pergeseran prediksi dari kebijakan moneter yang sangat dramatis ini tentu saja mendorong kenaikan harga emas. Sebelumnya sebagian besar investor memang sangat yakin bahwa the Fed akan mengurangi nilai pembelian obligasi atau tapering pada tahun ini.

Pergeseran perkiraan ini terjadi setelah Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan bahwa hanya 235 ribu pekerjaan yang diciptakan pada Agustus 2021. Data secara signifikan meleset dari ekspektasi karena para ekonom memperkirakan kenaikan pekerjaan sebesar 720 ribu. Angka kenaikan pekerjaan ini jauh di bawah perkiraan yang paling bearish sekalipun.

"The Fed tidak akan mengisyaratkan penurunan pembelian obligasi pada September, dan mereka hanya akan mendapatkan satu laporan pekerjaan lagi sebelum FOMC November," kata kepala analis mata uang Forexlive.com Adam Button, seperti dikutip dari Kitco, Senin (5/9/2021).

"Tambahkan tanda-tanda lain adalah pertumbuhan ekonomi AS yang lemah dan peluang untuk terus turun karena pertumbuhan mengecewakan di kuartal III diperkirakan akan berlanjut ke kuartal IV. Emas akan menembus resistensi di USD 1.834 dalam waktu dekat dan terus lebih tinggi." tambah dia.

Di pekan ini, 15 analis Wall Street berpartisipasi dalam survei emas Kitco News. Di antara para peserta, 10 analis atau 67 persen menyerukan harga emas naik.

Pada saat yang sama dua analis atau 13 persen menyerukan harga emas akan bergerak melemah pada pekan ini. Tiga analis atau 20 persen menyatakan netral terhadap harga emas dalam waktu dekat.

Sementara itu, Sebanyak 637 pelaku pasar ikut berpartisipasi dalam poling online. Dari jumlah tersebut, 416 responden atau 65 persen memperkirakan harga emas naik minggu depan.

Sedangkan 118 responden lainnya atau 19 persen mengatakan harga emas lebih rendah. Sementara 103 pemilih atau 16 persen menyatakan netral.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Sentimen Bullish

Ilustrasi Logam Mulia (iStockphoto)
Ilustrasi Logam Mulia (iStockphoto)

Sentimen bullish yang terjadi pada pekan ini sebenarnya sudah terlihat dari pekan sebelumnya karena Wall Street sudah mengharapkan harga emas bisa melambung.

Harga emas pada Jumat lalu diperdagangkan pada USD 1.832,30 per ounce, naik 0,7 persen dari pekan sebelumnya. Sebagian besar kenaikan itu terjadi pada Jumat menyusul data ekonomi yang mengecewakan.

Analis pasar Equiti Capital David Madden mengatakan, dia terus mengawasi nilai tukar dolar AS. Jika indeks dolar AS menembus di bawah 91,75 maka emas akan naik jauh lebih tinggi.

Namun, dia menambahkan, bahwa dia ingin melihat harga emas bergerak di atas USD 1.835 per ounce yang merupakan titik resistensi jangka pendek. Dia mengatakan, emas telah diuji dan gagal menembus level resistance tiga kali tahun ini.

"Saya bullish pada emas tapi masih sedikit berhati-hati," katanya.

"Saya pikir tapering tidak akan dilakukan pada September dan tidak mungkin pada Desember, jadi kemungkinan besar akan terjadi pada Maret dan itu dapat membatasi kenaikan emas," katanya.

Analis teknis senior Kitco.com Jim Wyckoff mengatakan, emas memiliki keunggulan teknis yang jelas, dan dia melihat harga yang lebih tinggi dalam waktu dekat.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel