Harga emas "rebound" 8,7 dolar AS, dipicu kekhawatiran Virus Corona

Risbiani Fardaniah

Harga emas berbalik naik atau rebound pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena meningkatnya kekhawatiran atas wabah Virus Corona di China dan dampaknya terhadap ekonomi global membebani sentimen untuk aset-aset berisiko, menopang permintaan terhadap aset-aset safe-haven seperti emas.

Kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Februari naik 8,7 dolar AS atau 0,56 persen, menjadi ditutup pada 1.565,40 dolar AS per ounce. Harga emas berjangka turun 1,2 dolar AS atau 0,1 persen menjadi 1.556,7 dolar AS per ounce pada akhir perdagangan Rabu (22/1/2020).

Sementara itu harga spot emas menguat 0,4 persen menjadi diperdagangkan di 1.564,13 dolar AS per ounce pada pukul 1.48 sore waktu setempat (1848 GMT).

"Virus Corona telah membawa orang ke emas karena ada antisipasi dari banyak potensi gejolak dalam ekonomi yang terpengaruh," kata Jeffrey Sica, pendiri Circle Squared Alternative Investments.

"Ini menambah tingkat ketidakpastian pada pasar keseluruhan yang memaksa orang untuk mempertimbangkan lebih banyak tempat berlindung yang aman jika ini menjadi epidemi yang lebih besar."

Pemerintah China menempatkan jutaan orang di dua kota dalam isolasi ketika jumlah kematian mencapai 18 orang, dan 634 orang terinfeksi.

Ketakutan virus korona menyebabkan kejatuhan terbesar di saham China dalam lebih dari delapan bulan, yang pada gilirannya membebani pasar ekuitas global.

Lebih lanjut memetik manfaat dari daya tarik emas batangan, imbal hasil surat utang AS jatuh ke posisi terendah beberapa minggu. Imbal hasil obligasi yang lebih rendah mengurangi potensi kerugian memegang emas yang tanpa memberikan suku bunga.

"Ekuitas sedikit lebih lemah sehingga memicu minat pada logam," kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.

“Tapi tidak adanya risiko geopolitik dalam jangka pendek membuat harga emas terkendali. Pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) tidak terlalu banyak menggerakkan pasar.”

Bank Sentral Eropa mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan kebijakan terbaru dan meluncurkan "tinjauan strategis" target inflasi dan alat-alatnya.

Emas, dianggap sebagai penyimpan nilai yang aman di saat ketidakpastian politik dan ekonomi, naik ke tertinggi tujuh tahun mendekati 1.610,90 dolar AS pada 8 Januari setelah meningkatnya ketegangan AS-Iran. Emas telah bertahan di atas 1.550 dolar AS untuk sebagian besar sejak itu.

Fokus sekarang akan beralih ke pertemuan pertama Federal Reserve (Fed) AS tahun ini yang dijadwalkan 28-29 Januari.

Harga spot emas bisa kembali ke terendah 21 Januari di 1.545,96 dolar AS, tampak goyah di sekitar resistensi pada 1.564 dolar AS, kata analis teknis Reuters Wang Tao.

Di antara logam mulia lainnya, harga spot paladium turun 0,6 persen menjadi 2.457,51 dolar AS per ounce, perak turun 0,1 persen menjadi 17,80 dolar AS dan platinum turun 0,7 persen menjadi 1.004,83 dolar AS.

Di pasar berjangka, perak untuk penyerahan Maret naik 0,1 persen atau 0,01 persen, menjadi ditutup pada 17,829 dolar AS per ounce. Platinum untuk penyerahan April turun 14 dolar AS atau 1,37 persen, menjadi menetap di 1.007,3 dolar AS per ounce.

Baca juga: IHSG Kamis sore lanjut menguat, pasca-Bank Indonesia tahan suku bunga

Baca juga: Bursa saham Inggris jatuh, Indeks FTSE-100 ditutup turun 64,25 poin

Baca juga: Bursa saham Jerman berakhir merosot 0,94 persen