Harga-harga barang naik serentak: apa kabar ekonomi Indonesia?

·Bacaan 1 menit

Melambungnya harga pangan menjelang Ramadan merupakan hal yang umum terjadi di Indonesia.

Terlepas dari kewajiban umat Muslim menahan haus dan lapar selama bulan puasa, konsumsi masyarakat naik pesat. Dari acara buka bersama hingga belanja baju baru, masyarakat menyambut Ramadan dan Idul Fitri dengan gegap gempita.

Akan tetapi, kenaikan harga pangan kali ini berbeda dengan biasanya. Di luar kenaikan konsumsi masyarakat, konflik bersenjata Rusia dan Ukraina memengaruhi stok pangan global dan menambah beban kenaikan harga.

Belum lagi, masyarakat sudah berbulan-bulan dihadapkan pada krisis harga minyak goreng yang meroket semenjak akhir 2021 lalu. Di saat bersamaan, pemerintah juga menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) tipe Pertamax dan Pajak Penambahan Nilai (PPN) menjadi 11%. Padahal, kepercayaan diri konsumen masih tertekan kondisi pandemi.

Bagaimana pemerintah dan masyarakat sebaiknya menyikapi kondisi ini?

Untuk menjawabnya, dalam episode podcast SuarAkademia kali ini, kami berbincang dengan Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara mengenai dampak kenaikan harga pangan yang berbarengan dengan sejumlah fenomena dan kebijakan perekonomian lainnya.

Bhima menjelaskan potensi terjadinya inflasi yang tidak terkontrol, kenaikan suku bunga yang dapat menekan masyarakat yang tengah mencicil rumah dan kendaraan bermotor, resesi ekonomi, hingga potensi konflik di antara masyarakat.

Simak diskusi lengkapnya di SuarAkademia - ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel