Harga Karet Anjlok Karena Pelemahan Pasar Internasional

  • Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Tempo
    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    TEMPO.CO, Surakarta - Pembangunan jalan tol yang menghubungkan dua kota terbesar di Indonesia, Jakarta dan Surabaya, berdampak menyusutnya lahan pertanian. …

  • Akhir 2014 Wika mulai garap proyek keluarga pendiri Al-Qaidah

    Akhir 2014 Wika mulai garap proyek keluarga pendiri Al-Qaidah

    Merdeka.com
    Akhir 2014 Wika mulai garap proyek keluarga pendiri Al-Qaidah

    MERDEKA.COM. PT. Wijaya Karya (Wika) Tbk tengah bersiap mengerjakan proyek pembangunan hotel berbintang di kawasan Masjidil Haram, Arab Saudi.Wika menjadi sub kontraktor dari kontraktor besar Timur Tengah, Bin Ladin Group yang merupakan keluarga pendiri Al-Qaidah. …

  • Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNnews.com
    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNNEWS.COM - Sekitar 75 persen dari penduduk Indonesia memenuhi kehidupannya dengan uang kurang dari 4 dollar AS per hari. …

Palembang (Antara) - Harga karet anjlok pada tingkat petani karena pengaruh pelemahan pasar internasional menyusul krisis ekonomi di Amerika dan Eropa, kata Peneliti Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah VII Palembang Sudarta.

"Indonesia tidak memiliki pasar sendiri karena karet merupakan komoditas ekspor, sehingga sangat bergantung dengan harga pada pasar internasional," kata Sudarta di Palembang, Selasa.

Ia mengemukakan, harga karet pada semester pertama tahun 2013 cukup fluktuatif dan berkecenderungan mengalami penurunan karena dipengaruhi krisis ekonomi global.

Harga karet berkualitas ekspor pada 11 Juli 2013 yakni 2,14 dolar AS/kg, sedangkan pada 10 Juli sebesar 2,15 dolar AS/kg.

Sedangkan, untuk harga bokar pabrik sekitar Rp18.223/kg dan harga bokar petani Rp16.079/kg.

"Kondisi anjloknya harga karet ini sebenarnya sudah terasa sejak awal tahun pada tingkat petani," ujarnya.

Keadaan ini justru berbeda pada komoditas minyak sawit mentah (CPO) karena mengalami kenaikan sejak awal Juli 2013 dengan mencatat pergerakan dari 679 dolar AS/mentric ton menjadi 765 dolar AS/metric ton.

"Tren ini berbalik terbalik dengan emas yang masih belum berbalik arah karena sejak awal Juli berada pada kisaran 1.369 dolar/ons dari 1.685 pada Juni 2013. Sementara, harga batu bara relatif bertahan pada kisaran 67 dolar AS/metric ton," katanya.

Ia menambahkan, pemerintah senantiasa mendorong industri hilirasasi untuk meminimalisasi pengaruh pelemahan pasar internasional.

Namun, upaya itu kerap terkendala mengingat para investor lebih tertarik mengimpor bahan baku dari Indonesia seperti karet, sawit, dan batu bara, dibandingkan membangun sebuah pabrik penghasil bahan baku karena dinilai memiliki resiko cukup tinggi.

"Keadaan sulit bagi petani karet di Sumsel ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika memiliki industri hilir yang menyerap produk dalam negeri. Namun, karena tidak memiliki pasar sendiri membuat pengaruh pelemahan pasar internasional akan berdampak signifikan," ujarnya.(rr)


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...

Artikel Bisnis Terpopuler