Harga Kedelai di Jatim Masih Tinggi, Ini Langkah Satgas Pangan

·Bacaan 2 menit

VIVA – Satuan Tugas (Satgas) Pangan Jawa Timur melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah perusahaan, agen dan distributor kedelai di sejumlah daerah di Jawa Timur.

Sidak dilakukan untuk mengetahui secara pasti penyebab masih tingginya harga kedelai di pasaran. Jika pun turun belum signifikan. Hasil sidak dijadikan bahan analisis dan evaluasi untuk mengambil langkah selanjutnya terkait itu.

"Informasi dari PT Surabaya Palentig Compeny FPC, harga kedelai saat ini sudah mengalami penurunan dibandingkan dengan harga waktu bulan puasa dan Lebaran, yang semula Rp10.150 per kilogram di tingkat importir, hari ini menjadi Rp9.500. Saat ini FPC memiliki stok kurang lebih 1.000 ton," kata Ketua Satgas Pangan Jatim Komisaris Besar Polisi Farman kepada wartawan, Kamis, 3 Juni 2021.

Di PT FKS, lanjut Farman yang Direktur Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jatim itu, harga kedelai sudah mengalami penurunan dibanding saat hari raya Idul fitri. Farman mengatakan PT FKS menjual dengan harga Rp10.100 per kilogram di gudang importir.

Sementara di agen CV Jaya Tri Hutama Lumajang harga kedelai dijual Rp10.300 per kilogram. Di agen ini, stok kedelai lebih dari 40 ton.

Di Tulungagung, lanjut Farman, informasi dari salah satu agen distributor kedelai di sana mengabarkan bahwa harga kedelai di agen sebesar Rp10.500 per kilogram dalam kemasan 25 kilogram. Di tingkat eceran harga kedelai sebesar Rp10.750 per kilogram. Di distributor CV Polowijo Tulungagung kedelai dijual Rp10.300 per kilogram.

Berdasarkan hasil sidak dan informasi dari importir dan distributor, diketahui bahwa stok kedelai masih banyak namun harga masih tinggi.

“Ada beberapa faktor harga masih tinggi, pertama, harga internasional atau dari negara asalnya, seperti Amerika dan Brasil sudah tinggi, sedangkan kebutuhan kedelai untuk bahan baku tahu tempe di dalam negeri 80 persen masih bergantung pada impor," ujar Farman.

Faktor lainnya, lanjut dia, ialah kenaikan biaya transportasi kapal pengangkut dampak dari pandemi COVID-19. Naiknya ongkos kapal pengangkut dari negara asal kedelai itu terjadi karena banyak perusahaan kapal yang menghentikan operasi akibat pandemi. Hanya sedikit yang beroperasi dan karena itu biaya pengangkutan menjadi mahal.

Sebetulnya, menurut Farman, berdasarkan siaran pers Kementerian Perdagangan tanggal 31 Mei 2021, harga kedelai dunia sudah mengalami penurunan dari Rp9.604 per kilogram menjadi Rp9.220 per kilogram. Namun, Satgas Pangan Jatim perlu turun langsung ke beberapa agen untuk memastikan stok dan harganya.

Melihat hasil sidak harga kedelai di Jatim masih tinggi maka langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya, ialah berkoordinasi dengan Disperindag terkait, apakah perlu diadakan operasi pasar di wilayah yang harga kedelainya tinggi atau tidak. “Kita juga memberdayakan Satgan Pangan kabupaten/kota untuk terus melakukan pengecekan,” kata Farman.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel