Harga Kedelai Dibatasi Rp 8.500 per Kg, Pengusaha Tempe Untung 30 Persen

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah menetapkan batas penjualan kedelai dari importir sebesar Rp 8.500 per kilogram. Langkah ini diambil sebagai upaya stabilitas harga kedelai yang sempat melambung menjadi Rp 9.300 per kilogram beberapa waktu lalu.

Para pengrajin mau tidak mau menaikkan harga produksi tahu dan tempe. Akibatnya, harga tahu dan tempe pun naik.

"Naik itu dari kemarin Senin. Menaikkan harga secara mendadak kan tidak mau," kata Ketua Puskopti DKI Jakarta H. Sutaryo saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Selasa (5/1/2021).

Sehingga, kata Sutaryo, harga tempe pun kini naik menjadi Rp 6.000 dari sebelumnya Rp 5.000. Sedangkan harga tahu ukuran besar menjadi Rp 2.500 dari sebelumnya Rp 2.000.

Sutaryo mengatakan dengan adanya penyesuaian harga kedelai tersebut para pengrajin tahu dan tempe akan mendapatkan keuntungan seperti semula, yakni berkisar 20 persen sampai 30 persen.

"Untungnya jadi standar dan stabil sekitar 20 persen sampai 30 persen," kata dia.

Dia menambakan, akibat mahalnya harga kedelai beberapa waktu lalu membuat para pedagang kaki lima dan rumah makan tidak menyediakan menu dari olahan tahu dan tempe. Namun, bagi konsumen menjadi memilih mengkonsumsi bahan makanan lainnya. Padahal konsumen pun tidak masalah jika harganya sedikit lebih mahal.

"Dengan mogok kemarin ini, semua konsumen malah bertanya kenapa harus tidak jualan. Kan lebih baik dinaikkan harganya daripada tidak ada sama sekali," kata dia mengakhiri.

Anisyah Al Faqir

Merdeka.com

Harga Kedelai Mahal, Begini Saran dari Ekonom

Perajin menunjukkan rendaman biji kedelai yang akan diolahnya menjadi tempe di kawasan Sunter, Jakarta, Senin (4/1/2021). Perajin tempe setempat berupaya mengurangi kerugian akibat melonjaknya harga kedelai impor dengan memperkecil ukuran tempe dan menaikan harga jual. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Perajin menunjukkan rendaman biji kedelai yang akan diolahnya menjadi tempe di kawasan Sunter, Jakarta, Senin (4/1/2021). Perajin tempe setempat berupaya mengurangi kerugian akibat melonjaknya harga kedelai impor dengan memperkecil ukuran tempe dan menaikan harga jual. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Ekonom sekaligus Peneliti Institute for Development of Economics (Indef), Bhima Yudhistira, menyarankan agar pemerintah segera bertindak untuk mengamankan pasokan kedelai impor, dengan membuat perjanjian bilateral dengan negara produsen kedelai.

“Menteri Perdagangan kan bisa kontak negara produsen kedelai untuk buat perjanjian secara bilateral. Bisa juga lakukan swap misalnya sawit ditukar dengan kedelai, seperti dulu pernah ada barter antara sawit dan suku cadang pesawat,” kata Bhima kepada Liputan6.com, Selasa (5/1/2021).

Selanjutnya pemerintah harus memastikan tata niaga kedelai di dalam negeri tidak ada permainan untuk spekulasi harga atau menahan pasokan di pasar. Kata Bhima, jangan sampai situasi naiknya harga kedelai dimanfaatkan oleh para spekulan dengan tahan stok impor.

Selain itu, langkah jangka panjang yang penting adalah mendorong produktivitas dan luasan lahan kedelai dalam negeri. Masalah naiknya harga kedelai jadi pelajaran penting, dalam jangka panjang ketergantungan terhadap kedelai impor harus dikurangi signifikan.

“Bantuan pemerintah dan inovasi pangan jangan hanya fokus ke beras tapi juga kedelai lokal,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan harga bahan baku tempe tahu tentu akan memukul kelas menengah kebawah. Secara umum tempe dan tahu jadi kebutuhan protein penting.

Apalagi dalam kondisi resesi ekonomi dan angka kemiskinan naik, yang biasa beli telur, ayam dan daging sapi bergeser ke membeli tempe tahu. Kalau sampai naik tinggi harga di pasaran dan produsen tempe tahu stop produksi itu sangat berisiko bagi ekonomi masyarakat.

Faktor kenaikan harga kedelai ada beberapa, diantaranya mulai dari pasokan yang terbatas dari Argentina dan Brazil disebabkan faktor cuaca, stok AS pun terus menipis.

Sementara dari sisi permintaan terjadi kenaikan yang signifikan dari China pasca pemulihan ekonomi dari covid19. China menguasai 64 persen dari total permintaan kedelai global.

“Ketika ekonomi pulih, daya beli masyarakat China membaik permintaan kedelai impor juga tinggi. Kedelai banyak digunakan di China untuk pakan ternak,” jelasnya.

Oleh karena itu sebaiknya Pemerintah Indonesia harus bergegas mengamankan stok kedelai untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri dengan cara yang sudah dijelaskan di atas.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: