Harga Kedelai Meroket, Produsen Tempe di Medan Terancam Bangkrut

Fikri Halim, Putra Nasution (Medan)
·Bacaan 1 menit

VIVA – Tingginya harga jual kacang kedelai sangat dirasakan oleh Widodo, salah satu produsen tempe berada di Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara. Dia harus memangkas produksi setiap harinya.

Widodo mengungkapkan, harga normal kacang kedelai sebelumnya dijual dengan Rp6.500 per kilogram. Namun, saat ini naik hingga Rp9.300 per kilogram. Ia mengakui kondisi ini berdampak dengan omzet penjualannya juga merosot drastis hingga 50 persen.

Dampak ini, membuat Widodo yang dalam sehari bisa mendapat penghasilan Rp1,1 juta, saat ini hanya berkisar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu. Ia mengungkapkan, bila tidak ada kebijakan dari pemerintah untuk menurunkan harga, produsen tempe dan tahu di Kota Medan terancam gulung tikar alias bangkrut.

“Apalagi karena Corona ini, penjualan berkurang dan omzet juga turun hingga 50 persen. Sekarang dapat penghasilan Rp400 ribu per hari saja susah,” sebut Widodo kepada wartawan, Rabu 6 Januari 2021.

Baca juga: Turis Sepi, Tingkat Hunian Hotel di Bali Kurang dari 20 Persen

Pemangkasan produksi, Widodo mengatakan, sudah dilakukan sejak harga komoditas kacang kedelai itu naik pada Desember 2020. Sebelum adanya kenaikan harga kedelai, tiap hari Widodo bisa memproduksi 70 hingga 80 kg kedelai.

Dari jumlah tersebut, Widodo bisa menghasilkan 300 hingga 350 bungkus plastik tempe dengan berbagai ukuran dan harga. Akibat pengurangan produksi, produsen tempe itu mengakui terancam bangkrut.

“Saat ini cuma berani produksi 25 hingga 30 kilogram kedelai karena harganya juga naik. Ini saya enggak tahu, bisa bertahan atau enggak kalau harganya terus naik,” ungkap Widodo.

Salah satu strategi yang dilakukan agar tidak merugi dengan mengurangi berat dan ukuran tempe dikurangi dari sebelumnya dan harga tetap dari sebelumnya. Dengan begitu, dirinya bisa menekan biaya pengeluaran produksi.

“Kita terpaksa mengurangi ukuran dan berat tempe bang, biar nggak rugi. Kalau untuk harga tetap, tidak ada kenaikan,” tutur Widodo.