Harga Komoditas Naik, Ekonomi RI Diramal Tumbuh 4 Persen di 2021

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Core Indonesia meramalkan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2021 bisa tumbuh di angka 3,6 persen sampai 4 persen. Ada banyak indikator yang bisa menggerakkan perekonomian Indonesia tahun ini lebih baik dari tahun 2022.

Salah satunya ditopang kinerja sektor pertambangan yang menggeliat di tengah meningkatnya harga komoditas. Sektor pertambangan di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Papua bisa disebut sebagai penggerak utama. Bahkan ketika diserang varian delta pada kuartal ketiga, daerah-daerah tersebut tetap berdaya tahan.

"Jadi ketika di kuartal-III ada perlambatan pertumbuhan ekonomi, daerah ini tidak," kata Peneliti Core Indonesia, Mohammad Faisal dalam Refleksi Ekonomi Akhir Tahun 2021, Jakarta, Rabu (29/12).

Dia melanjutkan kinerja pertambangan di Kalimantan Selatan pada kuartal III tahun ini tetap tumbuh positif. Batubara mengalami peningkatan lebih tinggi dari kuartal sebelumnya. Pun dengan Papua yang sejak kuartal IV-2020 hingga kuartal III-2021 tidak pernah mencatatkan kontraksi, malah tumbuh dua digit.

Kondisi ini tak lain disebabkan tingginya harga komoditas di tingkat global. Sempat mengalami keterpurukan di tahun 2020, namun mengalami tren positif sejak akhir tahun lalu hingga saat ini. Meskipun dalam jangka panjang cukup membahayakan karena adanya perbedaan yang besar dengan sektor-sektor penggerak ekonomi daerah lainnya.

"Seperti di Papua ini sebenarnya berbahaya karena struktur ini sangat dominan dan komponen kedua, tiga dan empat yang capaiannya sangat rendah sekali," kata dia.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Realisasi Investasi

Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Selain komoditas, pendorong ekonomi tumbuh tahun ini karena realisasi investasi yang mulai menyebar keluar wilayah Jawa. Investasi di wilayah timur Indonesia mengalami peningkatan seperti di Maluku Utara dan Sulawesi Tengah.

Penanaman modal tersebut membantu menopang pertumbuhan ekonomi daerah yang sukses berdaya tahan selama tahun 2021 yang sempat dihantam varian delta.

"Salah satunya kita lihat bagaimana Sulawesi Tengah dan Maluku Utara hampir tidak ada kontraksi ekonomi. Di 2020 tidak dan 2021 tidak," kata dia.

Meluasnya investasi ke luar Jawa menjadi sentimen positif karena pembangunan tidak lagi terpusat kepada jawasentris. Investasi berupa pembangunan smelter untuk sektor pertambangan memiliki nilai ekonomi yang besar. Sehingga berkontribusi pada pendapatan daerah dan PDRB.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel