Harga Komoditas Naik, ZINC Cetak Penjualan Rp 612,6 Miliar

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) mencatatkan penjualan sebesar Rp 612,6 miliar atau meningkat 61 persen hingga kuartal III 2021. Dari periode sama tahun lalu, Perseroan mencatat penjualan Rp 380,46 miliar.

Sementara laba bersih ZINC juga melonjak 148 persen mencapai Rp 65,4 miliar dari Rp 26,4 miliar pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Pencapaian ini didorong oleh penjualan bijih besi Kapuas Prima Coal yang meningkat sangat signifikan pada Kuartal III-2021 mencapai 676,3 persen atau sebesar Rp 57,5 miliar.

Ditambah, pada 2021, ZINC juga mendapatkan tambahan penjualan dari konsentrat besi sebesar Rp 100,1 miliar.

Direktur PT Kapuas Prima Coal Tbk, Evelyne Kioe mengatakan, pencapaian kinerja yang positif di kuartal ketiga ini sejalan dengan tren kenaikan harga komoditas serta pemulihan ekonomi global.

"Hingga September 2021 ini, total produksi ZINC sudah mencapai sekitar 350.000 ton, dan kami berharap hingga akhir tahun dapat mencapai target produksi kami yaitu sebesar 564.000 ton,” ungkapnya dalam keterangan yang diterima Liputan6.com, Kamis (4/11/2021).

Penjualan ZINC hingga kuartal III-2021 didominasi oleh penjualan konsentrat seng yang tercatat mencapai Rp 260,4 miliar atau berkontribusi sebesar 42,5 persen terhadap total penjualan ZINC.

Diikuti oleh penjualan konsentrat besi sebesar Rp 100,1 miliar, perak sebesar Rp 98,6 miliar, konsentrat timbal sebesar Rp 95,9 miliar, serta penjualan bijih besi sebesar Rp 57,5 miliar.

Perseroan saat ini berfokus untuk memaksimalkan penjualan hingga Desember 2021. Harga komoditas Zinc (Zn) saat ini di kisaran USD 3.200 per ton, Timbal (Pb) di kisaran USD 2.300 per ton dan harga Perak (Ag) di kisaran USD 23 per ozt akan mendorong kinerja yang positif bagi Perseroan.

Seiring dengan pertumbuhan kinerja, ZINC juga terus meningkatkan cadangan dan sumber daya untuk diproduksi.

ZINC memperluas area eksplorasi hingga 25 persen dari total luas area pertambangan Perusahaan sebesar 5.569 hektar yang terbagi atas dua Izin Usaha Pertambangan (IUP).

Menurut Evelyne, selama ini ZINC baru eksplorasi di area seluas 390 hektar atau kurang lebih 8 persen dari total area konsesi. Kemudian pada 2020, Perseroan memperoleh izin tambahan sekitar 1.169 hektar. Sehingga saat ini total area eksplorasi ZINC mencapai hampir sekitar 1.600 hektar atau kurang lebih 25 persen.

"Proses eksplorasi ditujukan untuk menentukan titik-titik cadangan mineral berada. Apabila dalam proses eksplorasi tersebut masih ditemukan mineral timbal dan seng, maka kami akan terus meningkatkan kapasitas produksi yang juga didukung oleh peningkatan kapasitas smelter yang saat ini tengah dibangun,” ujar dia.

Evelyn menambahkan, hal ini sejalan dengan peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. “Setiap penambahan produksi konsentrat harus dijual kepada smelter yang berada di dalam negeri,” ujar Evelyne.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Gerak Saham ZINC

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pada penutupan perdagangan Kamis, 4 November 2021, saham ZINC naik 0,76 persen ke posisi Rp 132 per saham. Saham ZINC dibuka stagnan Rp 131 per saham.

Saham ZINC berada di level tertinggi Rp 135 dan terendah Rp 131 per saham. Total frekuensi perdagangan 7.580 kali dengan volume perdagangan 7.377.952. Nilai transaksi Rp 97 miliar.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel