Harga Komoditas, Setoran APBN dan Rencana Kenaikan Harga BBM

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani mengatakan, harga komoditas mulai mengalami penurunan. Dampaknya, setoran ke anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) pun disinyalir akan ikut menurun.

Hariyadi menerangkan, dengan kenaikan harga komoditas, pemerintah mampu mengalokasikan Rp 502,4 triliun untuk subsidi energi termasuk BBM subsidi. Namun, menurunnya harga komoditas internasional dinilai akan berdampak ke besaran subsidi tersebut.

Mengutip pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, kalau konsumsi BBM subsidi nyatanya tak tepat sasaran. Maka, penyesuaian kembali alokasi menjadi pertimbangan yang perlu diperhatikan dengan cermat.

"Sehingga kalau melihat kondisi APBN yang cenderung akan menyusut, mau tak mau kan alternatifnya kalau tidak nambah utang lagi atau ya memang harus dilihat kembali, dievaluasi kembali subsidi ini," kata dia kepada wartawan ketika ditemui di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (30/8).

Melihat kondisi demikian, dia memandang masyarakat yang rentan terhadap perubahan harga BBM subsidi harus mendapat perhatian. Ini terkait dampaknya terhadap daya beli yang terancam menurun.

Hariyadi mengamini, kenaikan harga BBM subsidi juga akan berpengaruh pada inflasi. Utamanya di sektor makanan dan bahan pokok makanan. Di mana, sejauh ini pengelolaan bahan baku makanan dalam negeri masih belum optimal, kecuali beras.

"Tapi untuk komoditi lain kita sangat bergantung, gandum, bawang, jagung dan sebagainya kita masih bergantung, itu yang sebenarnya harus diupayakan kebutuhan bahan makanan pokok yang dari impor yang berdampak inflasi memang harus dicukupi dari dalam negeri. Ini kan bicara inflasi juga bicara supply and demand, kurang lebihnya seperti itu," bebernya.

Dampak Kenaikan Suku Bunga Acuan BI

suku bunga acuan bi rev1
suku bunga acuan bi rev1.jpg

Di sisi lain, dia melihat adanya dampak terhadap suku bunga pasca Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan. Ini juga disinyalir berdampak ke dunia usaha.

Menurutnya, ketika suku bunga secara keseluruhan ikut naik, upaya ekspansi usaha dan investasi baru pun akan terhambat. Khususnya pagi investor-investor dalam negeri.

"Jadi investasi ini akan ada hambatan menyikapi situasi saat ini," kata dia.

Kendati begitu, dia enggan pesimis. Pihaknya sebagai pelaku usaha masih optimistis kalau target pertumbuhan ekonomi nasional akan bisa tercapai di sisa tahun ini.

"Menurut pandangan kami juga lalu kita juga jangan terlalu pesimis ya, kami tetap optimis bahwa akan tetap tumbuh ya bahwa memang masanya aja yang kaya gini, kemudian kami akan tetap tumbuh kemungkinan tumbuh diatas 5 persen masih sangat terbuka," tutupnya.

Reporter: Arief Rahman

Sumber: Liputan6 [bim]