Harga minyak Asia naik, dipicu harapan permintaan pasca-stok AS jatuh

Harga minyak naik di awal perdagangan Asia pada Rabu, setelah data industri menunjukkan penurunan mengejutkan dalam stok minyak mentah AS, menunjukkan permintaan bertahan meskipun kenaikan suku bunga yang curam mengurangi pertumbuhan global.

Harag minyak mentah berjangka Brent terangkat 17 sen atau 0,1 persen, menjadi diperdagangkan di 94,82 dolar AS per barel pada pukul 00.14 GMT. Sementara itu harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 26 sen atau 0,3 persen, menjadi diperdagangkan di 88,63 dolar AS per barel.

Kedua kontrak acuan naik sekitar 2,0 persen di sesi sebelumnya ditopang dolar AS yang lebih lemah dan setelah catatan yang tidak diverifikasi yang sedang tren di media sosial mengatakan pemerintah China akan mempertimbangkan cara untuk melonggarkan aturan COVID mulai Maret 2023.

Dalam tanda positif lebih lanjut untuk permintaan, data pada Selasa (1/11/2022) dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah turun sekitar 6,5 juta barel untuk pekan yang berakhir 28 Oktober, menurut sumber pasar.

Baca juga: Harga minyak awal pekan turun di tengah pembatasan COVID China

Delapan analis yang disurvei oleh Reuters rata-rata memperkirakan persediaan minyak mentah akan naik 400.000 barel.

Pada saat yang sama, persediaan bensin turun lebih besar dari yang diperkirakan, dengan stok turun 2,6 juta barel dibandingkan dengan perkiraan analis untuk penarikan 1,4 juta barel.

Kebijakan nol-COVID China telah menjadi faktor kunci dalam menjaga harga minyak, karena penguncian berulang kali telah memperlambat pertumbuhan dan mengurangi permintaan minyak di ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

"Potensi perubahan pada kebijakan COVID-19 China dapat memiliki implikasi signifikan terhadap permintaan minyak," kata analis ANZ Research dalam sebuah catatan.

Baca juga: Harga minyak turun di Asia, dipicu perluasan pembatasan COVID di China