Harga minyak Asia pulih dari penurunan, prospek permintaan kuat

Harga minyak pulih dari penurunan tajam di sesi sebelumnya di perdagangan Asia pada Kamis sore, didukung oleh pasokan minyak yang ketat dan konsumsi puncak musim panas, setelah kenaikan suku bunga AS yang besar dan kuat memicu kekhawatiran pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dan permintaan bahan bakar berkurang.

Harga minyak mentah berjangka Brent naik 86 sen atau 0,7 persen, menjadi diperdagangkan di 119,37 dolar AS per barel pada pukul 06.44 GMT. Sementara itu harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS bertambah 96 sen atau 0,8 persen, menjadi diperdagangkan di 116,27 dolar AS per barel.

Harga minyak tergelincir lebih dari dua persen semalam setelah Federal Reserve (Fed) menaikkan suku bunga utamanya sebesar tiga perempat poin persentase, kenaikan terbesar sejak 1994.

Indeks dolar mundur dari level tertinggi 20 tahun, mengurangi tekanan turun pada harga minyak. Greenback yang lebih kuat membuat minyak yang dihargakan dalam dolar AS lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga membatasi permintaan.

Investor tetap fokus pada pasokan yang ketat dan permintaan yang kuat karena sanksi Barat membatasi akses ke minyak Rusia.

"Secara keseluruhan merupakan sesi yang bergejolak di hampir semua pasar kemarin," kata Ekonom Bank OCBC Singapura, Howie Lee.

Baca juga: Harga minyak "rebound" di Asia, ditopang pasokan terbatas

"Fundamental yang ketat menunjukkan penurunan harga minyak cenderung berumur pendek, atau dangkal, atau mungkin keduanya."

Di Libya, produksi minyak telah jatuh karena penutupan fasilitas produksi dan ekspor sebagai taktik dalam kebuntuan politik negara itu. Produksi turun menjadi 100.000-150.000 barel per hari, juru bicara kementerian perminyakan mengatakan pada Selasa (14/6/2022), sebagian kecil dari 1,2 juta barel per hari yang terlihat tahun lalu.

Juga, optimisme bahwa permintaan minyak China akan pulih karena pelonggaran pembatasan COVID-19 mendukung prospek harga.

"Rebound dalam sentimen permintaan China, dan ekspektasi peningkatan musiman dalam permintaan minyak OECD hingga Agustus membuat risiko harga naik hingga kuartal ketiga 2022," kata Kepala Penelitian Komoditas National Australia Bank, Baden Moore.

Produksi minyak mentah AS, yang sebagian besar stagnan selama beberapa bulan terakhir, naik tipis 100.000 barel per hari pekan lalu menjadi 12 juta barel per hari, level tertinggi sejak April 2020, data dari Badan Informasi Energi (EIA) menunjukkan.

Stok minyak mentah AS dan persediaan sulingan naik sementara persediaan bensin turun dalam seminggu hingga 10 Juni, kata EIA.

Baca juga: Harga minyak jatuh lebih dari dua persen karena Fed naikkan suku bunga
Baca juga: Harga minyak jatuh, tertekan kekhawatiran inflasi dan COVID di China

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel