Harga Minyak Dunia Merosot Akibat Kasus Corona di AS Capai 2 Juta

Zulfikar Husein

VIVA – Harga minyak mentah untuk kontrak yang ramai diperdagangkan kembali merosot di bawah US$ 40 per barel pada Jumat 12 Juni 2020 pukul 03:58 GMT (10:58 WIB). Minyak berjangka acuan internasional Brent turun 1,5 persen menjadi US$ 37,97 per barel.

Di saat yang sama, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat (AS) yakni West Texas Intermediate (WTI) anjlok lebih drastis. Harga minyak WTI jatuh hampir 2 persen menjadi US$ 35,69 per barel.

Baca Juga: Trump Larang Pendukungnya Menuntut Jika kena Corona di Acara Kampanye

Reli panjang harga minyak dari posisi terendah bulan April telah terhenti minggu ini karena pasar menghadapi kenyataan bahwa pandemi COVID-19 mungkin jauh dari usai. Kasus di AS kini sudah lewat dari angka 2 juta.

Harga minyak mentah sempat anjlok di bawah nol pada bulan April 2020 karena pemotongan produksi untuk memangkas kelebihan stok akibat sejumlah negara menerapkan kebijakan pembatasan yang mengurangi angka konsumsi.

Bank terbesar di Inggris, Barclays, memperkirakan, pemulihan harga minyak tidak berjalan merata karena pasat telah melihat peningkatan tercepat dalam permintaan dan penurunan pasokan yang paling tajam.

"Harga minyak telah reboun tajam ... dibantu dengan kejutan positif dalam data yang masuk pada permintaan dan OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) terus menahannya. Kami memperkirakan laju pemulihan harga melambat seiring dengan penyeimbangan kembali," tulis Barclays, dalam sebuah laporan, seperti dikutip The National.

Meskipun para produsen telah memotong pasokan mereka, Pemerintah AS melansir data bahwa stok bensin di negaranya pada pekan lalu bertambah dari yang diharapkan. Persediaan minyak mentah AS naik ke rekor 538,1 juta barel, karena impor murah dari Arab Saudi yang mengalir ke negara itu

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang berlanjutnya ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, karena sejumlah wilayah di AS termasuk Texas dan Arizona sedang mengalami lonjakan kasus virus Corona dan tengah berjuang untuk mengatasi meningkatnya jumlah pasien.

Di Houston, Lina Hidalgo, pejabat senior untuk wilayah yang mencakup kota yang merupakan jantung industri minyak AS, memperingatkan "kita mungkin mendekati jurang bencana". 

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda AS akan kembali menerapkan lockdown. Namun, jika lonjakan kasus semakin tak terkendali dan tak ada opsi lain, maka ekonomi negara Super Power sebagai konsumen minyak terbesar di dunia benar-benar dalam bahaya. 

Permintaan minyak pun bisa semakin jatuh dan harga minyak akan tertekan lagi. Para produsen bakal semakin memangkas jumlah produksinya.