Harga Minyak Dunia Naik Sentuh USD 114 per Barel Dipicu Pemadaman Ladang Minyak Libya

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Harga minyak dunia naik lebih dari satu persen pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB). Harga minyak mentah Brent mencapai USD 114 per barel dipicu pemadaman ladang minyak di Libya. Kondisi di Libya memperdalam kekhawatiran atas ketatnya pasokan global di tengah krisis Ukraina.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan global untuk pengiriman Juni naik USD 1,46 atau 1,3 persen, menjadi menetap di USD 113,16 per barel. Kontrak sempat naik menjadi USD 114,84 per barel, tertinggi sejak 28 Maret.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei naik USD 1,26 atau 1,2 persen, menjadi ditutup di USD 108,21 per barel. WTI mencapai USD 109,81 per barel, juga tertinggi sejak 28 Maret.

"Dengan pasokan global yang sekarang sangat ketat, bahkan gangguan yang paling kecil pun kemungkinan akan berdampak besar pada harga," kata Jeffrey Halley, analis di broker OANDA.

Kehilangan pasokan yang lebih dalam terus membayangi. Produksi Rusia turun 7,5 persen pada paruh pertama April dari Maret, Interfax melaporkan pada Jumat (15/4), dan pemerintah Uni Eropa mengatakan pekan lalu bahwa eksekutif blok itu sedang menyusun proposal untuk melarang minyak mentah Rusia.

Komentar itu muncul sebelum eskalasi dalam perang Ukraina. Pihak berwenang Ukraina mengatakan rudal menghantam Lviv pada Senin pagi (18/4) dan ledakan mengguncang kota-kota lain ketika pasukan Rusia terus melakukan pemboman setelah mengklaim hampir menguasai penuh pelabuhan Mariupol.

Ekonomi China Melambat

Dalam sinyal bearish untuk harga, ekonomi China melambat pada Maret, menghilangkan angka pertumbuhan kuartal pertama dan memperburuk prospek yang sudah melemah oleh pembatasan Covid-19.

Data pada Senin (18/4) juga menunjukkan China menyuling minyak 2,0 persen lebih sedikit pada Maret dari setahun sebelumnya, dengan keluaran (throughput) turun ke level terendah sejak Oktober karena lonjakan harga minyak mentah menekan margin dan penguncian yang ketat mengurangi konsumsi bahan bakar.

Minyak melonjak ke level tertinggi sejak 2008 pada Maret, dengan Brent sempat mencapai USD 134 per barel.

"Masih ada beberapa kebingungan tentang apakah mereka membuka kembali ekonomi mereka, jadi kami mendapatkan sinyal beragam dari China dan itu telah menghadirkan banyak volatilitas pagi ini," kata analis Price Futures Group, Phil Flynn. [idr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel