Harga Minyak Goreng Tembus Rp 23 Ribu per Liter, Masih Wajar?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Kenaikan harga minyak goreng yang terjadi saat ini dinilai masih dalam batas wajar. Lonjakan harga minyak goreng ini pun disebut tidak akan berdampak langsung pada perekonomian nasional yang sedang memasuki fase pemulihan ekonomi akibat Covid-19.

"Kenaikan harga minyak menurut hitungan saya tidak akan terlalu besar dampaknya ke perekonomian kita," kata Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Rabu (3/11).

Apalagi kata Pieter, kenaikan harga minyak goreng sudah berlangsung lama namun tidak banyak memengaruhi inflasi. Saat ini berdasarkan rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi Oktober masih terjaga di level rendah yakni 1,66 persen (yoy).

"Sejauh ini kenaikan harga minyak yang sudah cukup lama berlangsung belum berdampak ke inflasi Indonesia. Inflasi Indonesia masih terjaga di level yang rendah," ungkapnya.

Dia melanjutkan kenaikan inflasi justru lebih besar dipengaruhi adanya peningkatan permintaan seiring dengan fase pemulihan ekonomi nasional. Hal ini tercermin dari turunnya level PPKM di sejumlah wilayah karena terkendalinya kasus harian Covid-19.

"Inflasi diperkirakan lebih besar dipengaruhi oleh kenaikan demand ketika perekonomian mulai pulih seiring pelonggaran mobilitas karena meredanya pandemi," kata dia.

Terlebih kenaikan harga minyak goreng dipicu naiknya harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) secara global. Proses alami ini pun kata Pieter sebaiknya tidak perlu dicegah selama kenaikan harga bukan disebabkan adanya permainan harga oleh para spekulan.

"Ini proses alami yang tidak harus dicegah. Sepanjang kenaikannya bukan karena permainan produsen seperti kasus PCR," kata dia.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Kenaikan Harga

Pembeli berbelanja dekat kertas pemberitahuan pembatasan pembelian di supermarket Kawasan Cirendeu, Tangsel, Rabu (18/3/2020). Satgas Pangan meminta pedagang membatasi penjualan bahan pokok yakni beras, gula, minyak goreng dan mi instan untuk menjaga stabilitas harga. (merdeka.com/Arie Basuki)
Pembeli berbelanja dekat kertas pemberitahuan pembatasan pembelian di supermarket Kawasan Cirendeu, Tangsel, Rabu (18/3/2020). Satgas Pangan meminta pedagang membatasi penjualan bahan pokok yakni beras, gula, minyak goreng dan mi instan untuk menjaga stabilitas harga. (merdeka.com/Arie Basuki)

Terpenting, kenaikan harga yang terjadi masih dalam batas wajar. Sebab di sisi lain, kenaikan harga minyak goreng memang dibutuhkan industri agar terjadi penyerapan tenaga kerja karena permintaan produk yang meningkat.

"Kita juga harus ingat bahwa kenaikan harga yang wajar itu dibutuhkan oleh industri untuk mereka terus beroperasi. Sehingga mereka bisa menyerap tenaga kerja dan membantu mengatasi pengangguran dan kemiskinan," kata dia.

Sebagaimana diketahui, dalam beberapa waktu terakhir, harga minyak goreng di pasar tradisional maupun pasar modern terus mengalami kenaikan di sejumlah daerah di Indonesia.

Berdasarkan data dari hargapangan.id pada 3 November 2021, harga minyak goreng di Gorontalo tembus Rp 23.000 per liter. Sementara di Jakarta harga minyak goreng rata-rata Rp 18.900.

Sementara itu dari infopangan.jakarta.go.id, harga minyak goreng di Jakarta rata-rata Rp 18.133 per kilogram. Harga tertinggi minyak goreng di Pasar Anyar Bahari dibanderol Rp 20.000 per kilogram, sedangkan harga terendah dijual di Pasar Pluit sebesar Rp 14.000 per kilogram.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel