Harga minyak menguat terangkat prospek stimulus AS dan pasokan

Faisal Yunianto
·Bacaan 2 menit

Harga minyak menguat sekitar satu persen pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), terangkat optimisme seputar rencana stimulus AS dan beberapa kekhawatiran pasokan minyak.

Hanya saja, kenaikan harga tersebut dibatasi oleh kekhawatiran permintaan akibat kebijakan penguncian untuk mencegah penyebaran virus corona.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret naik 47 sen atau 0,9 persen, menjadi 55,88 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Maret, berakhir 50 sen atau 1,0 persen lebih tinggi pada 52,77 dolar AS per barel.

Para pejabat dalam pemerintahan Presiden AS Joe Biden pada pertemuan Minggu (24/1/2021) dengan anggota parlemen dari Partai Republik dan Demokrat mencoba untuk mencegah kekhawatiran Partai Republik bahwa proposal bantuan pandemi senilai 1,9 triliun dolar AS itu terlalu mahal.

“Presiden Biden yang baru dilantik tampaknya mendorong persetujuan cepat dari paket bantuan pandemi senilai 1,9 triliun dolar AS yang diusulkannya, sebuah perkembangan yang ditafsirkan oleh pasar sebagai indikasi yang jelas bahwa pemerintahan baru AS bertujuan untuk memulai pemulihan ekonomi, yang secara alami akan menguntungkan konsumsi bahan bakar,” kata Bjornar Tonhaugen, kepala pasar minyak Rystad Energy.

Di sisi pasokan, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya mematuhi pembatasan produksi minyak yang dijanjikan sejauh ini rata-rata 85 persen pada Januari, ungkap Petro-Logistics pada Senin (25/1/2021). Data menunjukkan bahwa kelompok tersebut telah meningkatkan kepatuhannya pada pembatasan pasokan yang dijanjikan.

Di Indonesia, penjaga pantainya menyita sebuah kapal tanker berbendera Iran atas dugaan transfer bahan bakar ilegal, meningkatkan prospek lebih banyak ketegangan di pengekspor minyak Teluk.

Di tempat lain, produksi dari ladang raksasa Kazakhstan, Tengiz, terganggu oleh pemadaman listrik pada 17 Januari.

Sementara itu, negara-negara Eropa telah memberlakukan pembatasan yang ketat untuk menghentikan penyebaran virus, saat China melaporkan peningkatan kasus baru COVID-19, menimbulkan kemerosotan prospek permintaan di konsumen energi terbesar di dunia.

Barclays menaikkan perkiraan harga minyak tahun ini, tetapi mengatakan kenaikan kasus di China dapat berkontribusi pada kemunduran jangka pendek.

Baca juga: Minyak jatuh terseret kasus COVID-19 di China dan kenaikan stok AS
Baca juga: Harga minyak bervariasi setelah stok AS meningkat, Brent naik tipis
Baca juga: Harga minyak naik terangkat optimisme stimulus jelang pelantikan Biden