Harga minyak naik, Brent dekati 50 dolar dipicu harapan stimulus AS

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 3 menit

Harga minyak menguat pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), dengan Brent mendekati 50 dolar AS per barel dipicu ekspektasi paket stimulus ekonomi AS dan kemungkinan vaksin untuk Virus Corona, mengesampingkan peningkatan pasokan dan kenaikan jumlah korban tewas akibat COVID-19.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Februari, bertambah 54 sen atau 1,11 persen menjadi menetap di 49,25 dolar AS per barel. Selama sesi tersebut, kontrak Brent mencapai level tertinggi sejak awal Maret di 49,92 dolar AS per barel.

Sementara itu harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari, terangkat 62 sen menjadi 46,26 dolar AS per barel, setelah menyentuh level tertinggi 46,68 dolar AS per barel.

Baca juga: Harga emas turun, setelah kenaikan luar biasa 3 hari beruntun

Kedua acuan minyak telah naik selama lima minggu berturut-turut, dengan harga Brent naik 1,7 persen dan harga minyak mentah AS naik 1,9 persen.

Rencana bantuan Virus Corona bipartisan senilai 908 miliar dolar AS mendapatkan momentum di Kongres AS.

“Kami lebih tinggi, meskipun ada peristiwa yang sangat buruk -- ini semua tentang stimulus,” kata Direktur Energi Berjangka Mizuho, Bob Yawger, di New York. "Anda tidak bisa pulang dengan cepat akhir pekan ini karena mereka bisa menandatangani kesepakatan akhir pekan ini."

Baca juga: Rupiah akhir pekan ditutup menguat tajam, seiring kemajuan stimulus AS

Baca juga: Menko Airlangga: Harga CPO bakal naik hingga 668 dolar/ton tahun depan

OPEC+, yang terdiri dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, pada Kamis (3/12/2020) menyetujui kompromi untuk sedikit meningkatkan produksi mulai Januari, tetapi melanjutkan sebagian besar pembatasan pasokan yang ada untuk mengatasi permintaan yang terpukul Virus Corona.

OPEC dan Rusia sepakat untuk mengurangi pemangkasan produksi minyak mulai Januari sebesar 500.000 barel per hari dengan kenaikan lebih lanjut yang belum ditentukan setiap bulannya, gagal mencapai kompromi mengenai kebijakan yang lebih luas untuk sisa tahun 2021.

OPEC+ diperkirakan akan melanjutkan pemotongan yang ada hingga setidaknya Maret, setelah mundur dari rencana untuk meningkatkan produksi sebesar dua juta barel per hari.

Baca juga: IHSG akhir pekan ditutup jatuh, pasar khawatir naiknya kasus COVID-19

Kenaikan ini berarti grup tersebut akan mengurangi produksi sebesar 7,2 juta barel per hari, atau 7,0 persen dari permintaan global mulai Januari, dibandingkan dengan pemotongan saat ini sebesar 7,7 juta barel per hari.

Sementara beberapa analis melihat pasar minyak kekurangan pasokan bahkan di bawah kuota pasokan baru yang lebih tinggi, yang lain memperkirakan barel akan membuat pasar mengalami kelebihan pasokan.

Baca juga: Saham Spanyol balik menguat, Indeks IBEX 35 melambung 1,49 persen

Baca juga: Saham Jerman setop kerugian, Indeks DAX 30 menguat 0,35 persen

Analis Wood Mackenzie, misalnya, memperkirakan bahwa jika kenaikan terus berlanjut hingga Maret, mungkin ada 1,6 juta barel per hari yang tidak diinginkan pada kuartal pertama.

Produksi AS sementara itu telah pulih dari posisi terendah dua setengah tahun yang disentuh pada Mei terutama karena produsen serpih telah mengaktifkan kembali sumur-sumur mereka sebagai tanggapan atas kenaikan harga.

Jumlah rig minyak AS naik lima rig menjadi 246 rig, tertinggi sejak Mei, kata perusahaan jasa energi Baker Hughes Co.

Baca juga: Saham Prancis "rebound" dari rugi, saham Peugeot melonjak 3,40 persen

Baca juga: Saham Inggris untung 4 hari beruntun, Indeks FTSE 100 naik 0,92 persen