Harga minyak naik, dipicu khawatir pasokan & peralihan bahan bakar

Harga minyak naik tipis pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), setelah pengawas energi internasional memperkirakan peningkatan peralihan gas ke minyak karena harga tinggi musim dingin ini, meskipun prospek permintaan tetap suram.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November terangkat 93 sen atau 1,0 persen, menjadi menetap di 94,10 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Harga minyak minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober berakhir 1,17 dolar AS atau 1,3 persen lebih tinggi, menjadi 88,48 dolar AS di New York Mercantile Exchange.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan perlambatan ekonomi yang semakin dalam dan ekonomi China yang goyah akan menyebabkan permintaan minyak global tersendat pada kuartal keempat tahun ini. Itu telah membuat harga di bawah tekanan akhir-akhir ini, dan dapat menghambat reli lebih lanjut.

"Saya pikir kita akan tetap dalam kisaran," kata Ahli Strategi Pasar Senior RJO Futures, Eli Tesfaye, di Chicago. "Saya tidak berpikir 70 dolar AS per barel ada dalam kartu, tetapi apa pun yang lebih dari 100 dolar AS tidak dibenarkan."

IEA juga mengatakan pihaknya memperkirakan peralihan luas dari gas ke minyak untuk tujuan pemanasan, mengatakan akan mencapai rata-rata 700.000 barel per hari (bph) pada Oktober 2022 hingga Maret 2023 - dua kali lipat tingkat tahun lalu. Itu, bersama dengan ekspektasi keseluruhan untuk pertumbuhan pasokan yang lemah, membantu mendorong pasar.

Baca juga: Harga minyak naik tipis di Asia, ditopang prospek permintaan global

Persediaan yang diamati secara global turun 25,6 juta barel pada Juli, kata IEA.

Namun, di Amerika Serikat persediaan minyak mentah naik minggu lalu untuk minggu kedua berturut-turut, sekali lagi didorong oleh rilis yang sedang berlangsung dari Cadangan Minyak Strategis (SPR), data terbaru pemerintah menunjukkan. Stok komersial naik 2,4 juta barel karena 8,4 juta barel dilepaskan dari SPR, bagian dari program yang dijadwalkan berakhir bulan depan.

"Angka minyak mentah menunjukkan bahwa begitu kita mengurangi waktu rilis Cadangan Minyak Strategis, kita akan melihat penurunan substansial dalam persediaan sehingga menjaga minyak tetap tinggi," kata Analis Price Futures Group, Phil Flynn, di Chicago.

Pedagang juga mengatakan kurangnya kepastian tentang kemungkinan penghentian kereta api AS karena perselisihan perburuhan yang sedang berlangsung menambah sedikit dukungan ke pasar. Tiga serikat pekerja sedang bernegosiasi untuk kontrak baru yang dapat mempengaruhi pengiriman dengan kereta api, yang penting untuk pengiriman minyak mentah dan produknya.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Selasa (13/9/2022) mengatakan permintaan minyak global pada tahun 2022 dan 2023 akan datang lebih kuat dari yang diharapkan, mengutip tanda-tanda bahwa ekonomi-ekonomi utama bernasib lebih baik dari yang diperkirakan meskipun ada tantangan seperti lonjakan inflasi.

Baca juga: Harga minyak jatuh, setelah inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan