Harga minyak naik, dipicu permintaan ekspor yang kuat menguras stok AS

Harga minyak naik sekitar 1,5 persen setelah mencapai level terendah enam bulan pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), karena penarikan stok minyak mentah AS yang lebih curam dari perkiraan melebihi kekhawatiran atas peningkatan produksi dan ekspor Rusia serta kekhawatiran resesi.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober terangkat 1,31 dolar AS atau 1,42 persen, menjadi menetap di 93,65 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Pada awal perdagangan, kekhawatiran resesi telah menekan harga Brent jatuh ke level terendah sejak Februari di 91,51 dolar AS.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September bertambah 1,58 dolar AS atau 1,8 persen, menjadi ditutup pada 88,11 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Stok minyak mentah AS turun 7,1 juta barel dalam seminggu hingga 12 Agustus menjadi 425 juta barel, data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan, dibandingkan dengan perkiraan para analis untuk penurunan 275.000 barel dalam jajak pendapat Reuters.

Ekspor minyak mentah AS mencapai 5 juta barel per hari, rekor tertinggi, data EIA menunjukkan, karena WTI telah diperdagangkan dengan diskon tajam terhadap Brent, membuat pembelian minyak mentah AS lebih menarik bagi pembeli asing.

Sebagai tanda permintaan yang kuat, stok bensin turun 4,6 juta barel, jauh lebih tinggi dari perkiraan 1,1 juta barel.

Baca juga: Minyak pulih dari terendah 6 bulan di Asia setelah persediaan AS turun

"Itu diperkirakan menjadi laporan yang bersahabat dan cukup banyak di seluruh papan. Beberapa kekhawatiran kehancuran permintaan yang dialami pasar tampaknya sedikit berkurang," kata Phil Flynn, seorang analis di grup Price Futures.

American Petroleum Institute (API) pada Selasa (16/8/2022) menandai penarikan 448.000 barel dalam stok minyak mentah dan 4,5 juta barel dalam persediaan bensin, menurut sumber.

Harga minyak telah melonjak pada tahun 2022, mendekati level tertinggi sepanjang masa di 147 dolar AS per barel pada Maret setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Namun Rusia telah mulai secara bertahap meningkatkan produksi minyak setelah pembatasan terkait sanksi dan karena pembeli Asia telah meningkatkan pembelian, membuat Moskow meningkatkan perkiraan untuk produksi dan ekspor hingga akhir 2025, sebuah dokumen kementerian ekonomi yang dilihat oleh Reuters menunjukkan.

Pendapatan Rusia dari ekspor energi diperkirakan naik 38 persen tahun ini sebagian karena volume ekspor minyak yang lebih tinggi, menurut dokumen itu, sebagai tanda bahwa pasokan dari negara itu tidak terpengaruh sebanyak yang diperkirakan pasar sebelumnya.

Baca juga: Harga minyak di Asia lanjut penurunan, dipicu prospek permintaan lemah

Prospek resesi juga baru-baru ini membebani harga minyak. Inflasi harga konsumen Inggris melonjak menjadi 10,1 persen pada Juli, tertinggi sejak Februari 1982, mengintensifkan tekanan pada rumah tangga, dan mendorong harga minyak lebih rendah pada pagi hari.

"Ada risiko penurunan yang meningkat sebagai akibat dari prospek pertumbuhan dan ketidakpastian yang sedang berlangsung seputar pembatasan COVID China," kata Craig Erlam dari broker OANDA.

Eksodus peserta, terutama hedge fund dan spekulan, telah membuat perubahan harga harian jauh lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.

Di sisi pasokan minyak, pasar sedang menunggu perkembangan dari pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015 dengan kekuatan dunia, yang pada akhirnya dapat mengarah pada peningkatan ekspor minyak Iran.

Uni Eropa dan Amerika Serikat mengatakan pada Selasa (16/8/2022) bahwa mereka sedang mempelajari tanggapan Iran terhadap apa yang disebut Uni Eropa sebagai proposal "final" untuk menyelamatkan kesepakatan.

Analis di Goldman Sachs mengatakan kembalinya pasokan minyak mentah Iran akan mengurangi perkiraan 2023 mereka sebesar 5-10 dolar AS per barel dari 125 dolar AS per barel.

Baca juga: Harga emas jatuh 13 dolar, perpanjang kerugian 3 hari beruntun