Harga Minyak Terjun Bebas, Haruskah Pertamina Turunkan Harga BBM?

Raden Jihad Akbar

VIVA – Merosotnya harga minyak mentah di dunia saat ini membuat harga bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah negara diturunkan. Malaysia misalnya, harga BBM pada bulan ini dibanderol lebih murah dibanding Indonesia di kisaran Rp4.326 hingga Rp5.365 per liternya. 

Sebagai agen pemerintah, Pertamina  belum merespons dinamika global tersebut dengan menurunkan harga BBM. Haruskah kebijakan itu dilakukan Pertamina? 

Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan menilai langkah Pertamina itu masih masuk akal. Mengingat dalam penentuan harga BBM Pertamina terikat dalam berbagai faktor. seperti regulasi BBM dari pemerintah hingga biaya operasional yang harus ditanggung untuk mengelola kilang dan sumur minyak yang dimiliki.

Menurutnya, Pertamina sendiri pun mengalami penurunan pendapatan selama Pandemi Virus Corona Saat ini. Sebab, konsumsi BBM terjun bebas seiring dengan Pembatasan Sosial Berskala besar yang diterapkan guna memutus mata rantai penyebaran COVID-19.  

"(Pertamina) dalam menentukan harga jual BBM tidak hanya dari harga minyak mentah tapi juga biaya operasional bisnis, dan lain-lain. Ini perlu dipertimbangkan agar kegiatan bisnis tetap berjalan normal," ujar Mamit dikutip dari keterangannya, Senin 4 Mei 2020.  

Dia pun berpendapat, kondisi di Indonesia tidak bisa disamakan dengan Malaysia yang otomatis menurunkan harga BBM ketika harga minyak mentah turun. Sebab, kompleksitas faktor penentu harga BBM nya pun berbeda, terutama soal biaya distribusi berdasarkan geografis. 

“Kita tidak bisa membandingkan harga BBM di Indonesia dan Malaysia. Luas wilayah berbeda, biaya distribusi juga berbeda. Jadi, banyak biaya variabel yang dikeluarkan,” kata Mamit.

Di sisi lain dia mengingatkan, bahwa Pertamina sebenarnya juga sudah menurunkan harga BBM non penugasan pada Februari lalu. 

“Jadi, melihat bisnis Pertamina memang harus secara holistik, menyeluruh. Karena tidak hanya bermain di hilir tetapi juga di hulu, yang saat ini mengeluarkan banyak biaya. Ini yang berbeda dengan swasta lain,” ungkapnya.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengungkapkan hal senada. Meski mengalami penurunan, namun harga minyak dunia sebenarnya masih fluktuatif. Sekitar 2-3 bulan mendatang saat pandemi Corona sudah mereda, diperkirakan harga akan kembali normal.

"Dengan normalnya kondisi, otomatis sejumlah negara, seperti Jepang, Korea Selatan dan China, sudah melakukan ancang-ancang untuk perbaikan proses produksi. Begitu pula dengan negara-negara G-7, terutama di Eropa, yang saat ini masih gigih menangani COVID-19," tambahnya.

Sementara itu, soal harga BBM di Indonesia diketahui hanya lebih mahal dari Malaysia, selebihnya lebih murah dari Thailand Vietnam. Pandangan bahwa saat harga murah Pertamina bisa borong minyak, juga harus dilihat terperinci karena ada keterbatasan storage.

"Sementara jika pakai floating storage, semua kapal juga sudah tidak bisa sandar. Karena itu, pemerintah didorong membangun infrastruktur minyak dan gas sebagai investasi seperti membangun jalan, jangan dilihat sebagai cost," ungkapnya. 

Pantau berita terkini di VIVA Network terkait Virus Corona