Harga Minyak Turun 3 Pekan Beruntun Terpukul Penguatan Dolar AS

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak turun pada perdagangan Jumat, menghapus keuntungan dari sesi sebelumnya. Penurunan harga minyak terjadi tengah kekhawatiran bahwa Bank Sental Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) akan mempercepat rencana untuk meningkatkan suku bunga untuk menjinakkan inflasi.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (13/11/2021), harga minyak mentah berjangka Brent turun 70 sen atau 0,8 persen ke level USD 82,17 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 80 sen atau 1 persen menjadi USD 80,79 per barel.

Kedua harga patokan minyak dunia tersebut turun untuk minggu ketiga berturut-turut, terpukul oleh penguatan dolar dan spekulasi bahwa pemerintahan Presiden Joe Biden mungkin melepaskan minyak dari Cadangan Minyak Strategis AS untuk mendinginkan harga. Pada basis mingguan, Brent turun 0,7 persen, sementara WTI turun 0,6 persen.

"Pekan ini telah menjadi pengingat yang baik bagi pasar minyak bahwa harga tidak hanya dipengaruhi oleh penawaran-permintaan, tetapi juga dari perkiraan kebijakan moneter dan oleh bentuk intervensi pemerintah," kata Louise Dickson, Analis Pasar Minyak Senior di Rystad Energy.

"Suku bunga yang lebih tinggi akan memberikan dukungan lebih lanjut terhadap dolar dan bahkan lebih banyak tekanan ke bawah pada harga minyak," lanjut dia.

Minggu ini, Menteri Energi AS Jennifer Granholm mengatakan Presiden Joe Biden dapat bertindak secepat minggu ini untuk mengatasi kenaikan harga bensin.

"Kami percaya bahwa apa pun pengumuman itu hanya akan berdampak jangka pendek pada harga (minyak), tetapi karena ketidakpastian pasar sedikit mundur," kata Phil Flynn, Analis Senior di Price Futures Group.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pemintaan Minyak

Ilustrasi Harga Minyak
Ilustrasi Harga Minyak

Meskipun ada tanda-tanda positif di sisi permintaan, dengan perjalanan udara meningkat dengan cepat, kebijakan moneter dan fiskal yang lebih ketat dan musim dingin di belahan bumi utara akan bertindak sebagai peredam.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada hari Kamis memangkas perkiraan permintaan minyak dunia untuk kuartal keempat sebesar 330.000 barel per hari (bph) dari perkiraan bulan lalu karena harga energi yang tinggi menghambat pemulihan ekonomi dari pandemi COVID-19.

Sementara itu, OPEC, Rusia dan sekutu atau yang dikenal dengan OPEC+, sepakat pekan lalu untuk tetap berpegang pada rencana untuk menambah 400.000 barel per hari ke pasar setiap bulan.

"Pasar minyak berjalan dalam tidur menuju surplus pasokan. OPEC dan sekutunya setidaknya perlu menghentikan pelonggaran pembatasan pasokan mereka di tahun baru. Kelambanan akan mengakibatkan stok minyak global membengkak sekali lagi," kata Stephen Brennock dari Pialang Minyak PVM.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel