Harga saham global ditutup bervariasi di tengah kekhawatiran gelombang kedua virus

New York (AFP) - Harga ekuitas di seluruh dunia ditutup bervariasi Senin setelah bursa-bursa saham menaksir harapan bukanya kembali perekonomian yang berlawanan dengan kekhawatiran atas kasus-kasu virus corona, termasuk petunjuk adanya "gelombang kedua" wabah di Asia.

Prancis dan Spanyol mengambil langkah-langkah baru dalam melonggarkan lockdown, bersama dengan sejumlah negara bagian di AS yang beberapa di antaranya menempuh langkah membolehkan aktivitas tambahan sepanjang akhir pekan lalu.

Tetapi setelah lebih dari sebulan tanpa melaporkan kasus baru, kota Wuhan di China tengah yang menjadi tempat wabah pertama kali muncul, melaporkan lima infeksi baru pada Minggu.

Dan Korea Selatan yang berdekatan dengan Wuhan mengumumkan jumlah infeksi tertinggi selama lebih dari sebulan yang didorong oleh sebuah kluster di distrik kehidupan malam di Seoul.

"Kekhawatiran akan gelombang kedua sudah mulai muncul di Korea Selatan, China, dan bahkan mungkin Jerman yang seharusnya menjadi pelajaran bagi negara-negara yang bersiap melonggarkan pembatasan," kata Craig Erlam, analis pada OANDA.

Di AS, tren meningkat secara signifikan di kota New York dan beberapa titip panas awal lainnya, tetapi catatan di tempat lain beragam. Negara ini kini memimpin dunia dalam jumlah korban meninggal dengan 80.000 orang.

Diperkirakan terjadi peningkatan kasus COVID-19 di Georgia, Texas dan negara bagian AS lainnya yang telah bergerak lebih cepat dalam melanjutkan aktivitas, tetapi otoritas berharap setiap kenaikan ini bisa dikelola dan tidak membuat pembatasan dihidupkan kembali.

"Investor terus mencermati kondisi ekonomi saat ini dan terhadap prospek mulainya lagi aktivitas," kata spesialis perdagangan TD Ameritrade Institutional Mike Turvey.

Di pasar lainnya, harga minyak turun setelah melonjak pekan lalu di tengah harapan naiknya permintaan.

Lonjakan itu terjadi meskipun ada pengumuman bahwa Arab Saudi telah meminta raksasa minyak Aramco untuk memangkas produksinya dengan tambahan satu juta barel per hari dari Juni guna menyangga harga yang telah jatuh selama krisis virus corona.

Langkah terbaru Saudi itu merupakan "cerminan dari terus menggantungnya pasokan karena risiko berkurangnya pemulihan permintaan," kata analis Senior Pasar Minyak Rystad Energy Paola Rodriguez Masiu.

"Pemangkasan tambahan yang dilakukan Saudi itu tidak akan menyeimbangkan kembali pasar, namun pasti menghilangkan tekanan terhadap infrastruktur penyimpanan dan mengulur waktu guna menunggu naiknya lagi permintaan," kata Masiu.

New York - Dow: TURUN 0,5 persen pada 24.221,99 (penutupan)

New York - S&P 500: NAIK TIPIS pada 2,930.19 (penutupan)

New York - Nasdaq: Naik 0,8 persen menjadi 9192,34 (penutupan)

London - FTSE 100: Naik 0,1 persen menjadi 5,939.73 (penutupan)

Frankfurt - DAX 30: TURUN 0,7 persen pada 10.824,99 (penutupan)

Paris - CAC 40: TURUN 1,3 persen di 4,490.22 (penutupan)

EURO STOXX 50: TURUN 0,8 persen di 2,883.75 (penutupan)

Tokyo - Nikkei 225: Naik 1,1 persen menjadi 20.390,66 (penutupan)

Hong Kong - Hang Seng: Naik 1,5 persen ke 24.602,06 (penutupan)

Shanghai - Composite: NAIK TIPIS pada 2,894.80 (penutupan)

West Texas Intermediate: TURUN 2,4 persen pada $ 24,14 per barel

Minyak mentah Brent Laut Utara: TURUN 3,5 persen pada $ 29,60

Euro/dolar: MELEMAH pada $ 1,0817 dari $ 1,0839 pada Jumat pukul 21.00 GM

Dolar/yen: Menguat pada 107,65 yen dari 106,65 yen

Pound/dolar: MELEMAH pada $ 1,2337 dari $ 1,2410

Euro/pound: MENGUAT pada 87,65 sen dari 87,34 sen

burs-jmb/bgs