Harga Sawit di Riau Anjlok, Petani Terpaksa Berutang untuk Beli Beras

Merdeka.com - Merdeka.com - Harga buah kelapa sawit di Riau kembali anjlok. Kondisi ini menyebabkan para petani mengaku mulai kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Mulai hari ini Selasa (12/7) hingga sepekan ke depan, buah sawit petani plasma dihargai Rp1.509,38 per kilogram. Sementara petani tanpa mitra dengan perusahaan atau bukan plasma, panennya dihargai tidak sampai Rp1.000 per kilogram.

Anjloknya harga sawit di Riau berimbas pada perekonomian masyarakat. Sebab, mayoritas warga Riau hidup bergantung pada bertani. Apalagi kebun sawit terluas di Indonesia berada di Riau.

Salah seorang petani di Riau, Syahrul Hidayat mengaku cemas dengan anjloknya harga sawit. Dia terpaksa berutang di warung untuk membeli beras karena hasil panen 2 hektare kebun kelapa sawitnya tak sesuai dengan pengeluaran.

"Sawit saya sekali panen hanya 1 ton, kalau sebulan jadi 2 ton. Harga per kilogram di tengkulak hanya Rp500 per kilogram, jadi sebulan saya dapat hanya Rp1 juta. Terpaksa saya utang beras demi makan anak dan istri. Saya juga terpaksa kerja lain untuk mencukupi kebutuhan," kata Syahrul kepada merdeka.com.

Turun 14,84 Persen dari Pekan Lalu

Kepala Dinas Perkebunan Riau Zulfadli mengatakan, jumlah penurunan harga sawit di Riau hari ini Rp263 per kilogram atau turun 14,84 persen dari harga pekan lalu.

"Sehingga harga pembelian buah sawit petani untuk periode satu minggu ke depan turun menjadi Rp1.509,38 per kilogram," ujar Zul.

Zul mengatakan, penurunan harga tandan buah segar (TBS) disebabkan faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal turunnya harga sawit periode ini disebabkan oleh terjadinya kenaikan dan penurunan harga jual crude palm oil (CPO) dan kernel dari perusahaan yang menjadi sumber data.

"Sementara dari faktor eksternal, harga minyak sawit mentah (CPO) diprediksi bakal anjlok dalam. Dipicu menularnya ketakutan pasar global terhadap resesi yang mengancam ekonomi Amerika Serikat (AS). Bahkan, ketakutan pasar tersebut diprediksi lebih kuat dari dampak tensi geopolitik di Ukraina," jelasnya.

Percepatan Perluasan Ekspor CPO

Sebelumnya Gubernur Riau Syamsuar menyampaikan permohonan percepatan dan perluasan ekspor CPO dan turunannya sebagai upaya meningkatkan harga TBS kelapa sawit.

Permohonan tersebut disampaikan Gubernur Riau kepada Presiden RI Joko Widodo di Jakarta, melalui surat bernomor 526/Disbun/1837 pada Senin (4/7).

Dalam permohonan tersebut, Syamsuar melaporkan kepada Presiden Jokowi bahwa harga TBS perkebunan kelapa sawit beberapa bulan terakhir di Sumatera khususnya dan di Indonesia pada umumnya cenderung menurun signifikan.

Sejalan dengan hal itu, anjloknya harga TBS di tingkat pekebun juga menjadi isu sentral yang dibahas pada rapat forum gubernur se-Sumatera tahun 2022 yang diselenggarakan pada tanggal 28 sampai 30 Juni 2022 di Pekanbaru.

Syamsuar juga melaporkan kepada Presiden bahwa perkembangan terakhir harga TBS pekebun di Provinsi Riau saat ini berkisar antara Rp600 sampai dengan Rp900 per kg.

Penyebab utama anjloknya harga TBS pekebun adalah belum optimalnya ekspor CPO dan turunannya serta keterbatasan storage tank yang dimiliki PKS sehingga PKS membatasi pembelian TBS dari pekebun.

"Berdasarkan laporan dari 285 PKS yang ada di Provinsi Riau, storage tank PKS dan eksportir hanya mampu menampung CPU dalam waktu satu minggu," kata Syamsuar. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel