Harga Tes PCR Turun, Garuda Indonesia Berharap Ada Kenaikan Penumpang

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menetapkan tarif tertinggi pemeriksaan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) Rp 495 ribu untuk Jawa dan Bali, serta Rp 525 ribu untuk luar Jawa dan Bali.

Tarif tes PCR tersebut ditetapkan melalui Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan nomor HK.02.02/I/2845/2021 Tentang Batas Tarif Tertinggi Pemeriksaan Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR).

Sehubungan dengan itu, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra berharap jumlah penumpang pesawat dapat terkerek naik. Seperti diketahui, tes PCR menjadi salah satu persyaratan perjalanan udara selama pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk menekan laju penyebaran covid-19.

“Kita menyadari, ketika pengetatan perjalanan dilakukan dengan salah satu syarat harus tes PCR, ini berimbas pada penurunan jumah penumpang. Oleh sebab itu bila PCR ini turun harganya, kita berharap akan ada peningkatan traffic penerbangan di kemudian hari,” ujar Irfan dalam paparan publik Garuda Indonesia, Kamis (19/8/2021).

Meski begitu, Irfan menekankan, persyaratan tes PCR ini bukan satu-satunya variabel yang mempengaruhi jumlah penumpang saat ini. Melainkan ada beberapa situasi lain yang juga mempengaruhi jumlah penumpang pesawat.

“Mohon dipahami bahwa penurunan maupun peningkatan traffic itu bukan semata-mata disebabkan oleh tes PCR. Tapi juga banyak kondisi, diantaranya adalah kondisi di destinasi, limitasi penerbangan untuk anak dan sebagainya,” kata Irfan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Angin Segar Garuda Indonesia

Ilustrasi maskapai penerbangan Garuda Indonesia saat berhenti di apron Bandara Adi Soemarmo.(Liputan6.com/Fajar Abrori)
Ilustrasi maskapai penerbangan Garuda Indonesia saat berhenti di apron Bandara Adi Soemarmo.(Liputan6.com/Fajar Abrori)

Di sisi lain, kabar pemberangkatan jemaah umrah dari Indonesia yang diperkirakan dibuka mulai Oktober, membawa angin segar bagi maskapai pelat merah itu. Hal ini juga akan mempengaruhi proyeksi kinerja Perseroan sampai dengan akhir tahun.

Hingga kini, Irfan enggan membeberkan proyeksi kinerja Garuda Indonesia hingga akhir tahun lantaran dinamika COVID-19 yang masih berlangsung.

"Kita berulang kali bikin outlook untuk internal, tapi situasi pandemi dan penanganan soal pembatasan perjalanan ini membuat kita agak sulit memprediksi keakuratan proyeksi kita. Sementara kalau diproyeksikan berdasarkan kondisi hari ini, itu terlalu konservatif,” kata Irfan.

Dalam hematnya, jika benar pemberangkatan jemaah umrah dari Indonesia dibuka pada Oktober mendatang, itu akan mengerek pendapatan Perseroan. Lantaran saat ini sudah banyak jemaah yang antre untuk berangkat umroh.

"Masalanya, apakah betul umrah akan buka bulan Oktober ini langsung dari Indonesia. Karena begitu dibuka, swing dari pendapatan kita akan bergerak cukup jauh karena antrian untuk umroh ini sudah sangat tinggi," ujar Irfan.

Kembali pada kebijakan perjalanan udara, Irfan berharap persyaratan berupa sertifikat vaksin dan antigen dapat diberlakukan secara merata di Indonesia. Adapun saat ini, untuk enerbangan Jawa-Bali persyaratan berupa sertifikan vaksin dan tes antigen. Sementara di luar Jawa-Bali persyaratannya berupa sertifikat vaksin dan tes PCR.

"Jadi kita harap tidak lama lagi syarat vaksin dan antigen jadi syarat yang mudah dibandingkan sertifikat vaksin dan PCR. Variabelnya terlalu beragam, dan kami agak khawatir sampaikan outlook itu,” pungkasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel