Hargai Setiap Kebersamaan dengan Ayah, sebab Itu Kenangan Paling Berharga

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

TERKAIT: Ayah, Sosok Paling Sabar yang Jadi Sumber Kekuatanku untuk Selalu Tegar

TERKAIT: Di Balik Sosok Ayah yang Tampak Kuat, Ada Rasa Lelah yang Disimpan Sendiri

TERKAIT: Bagi Anak Perempuan, Ayah adalah Sosok Pahlawan Hebat Pertama di Hidupnya

***

Oleh: Dosni Arihta

Halo, Pa.

Apakah papa sedang tersenyum sekarang? Rasanya sudah lama sekali, aku tidak melihat senyummu, pa.

Setahun belakangan ini wajahmu selalu layu. Aku ingat, terakhir kali kita bertemu saat papa masih sehat, itu sudah dua tahun yang lalu. Penuh semangat, papa menggandeng tangan anakku, ketika kami menjemput papa di bandara.

Aku terus memandangi punggungmu saat itu. Punggung yang nampak kurus, yang dengan jelas menunjukkan hasil perjuangan melawan kanker 4 tahun lalu. Papa dengan kantong kateter menempel di badan, namun dengan ceria menyambut anak dan cucunya. Papaku yang hebat, yang dengan segera hadir meski harus keluar kota, ketika ada keluarga yang mengalami duka.

Ya, papa selalu begitu, menangis dengan orang yang menangis. Siap sedia di kala sanak saudara menderita, padahal dia sendiri juga suka menyimpan derita. Siapa yang tahu kalau sakit pinggang yang papa rasa begitu hebatnya?

Seandainya aku tahu, bagaimana kanker itu telah membuat seluruh tubuh papa kesakitan, aku tidak akan memaksa papa untuk bangun dari tempat tidur atau menghabiskan makanan yang selalu tersisa. Kalau saja aku tahu, papa merasa kesepian dan ketakutan, karena tak ada yang mengerti rasa sakitnya, aku tidak akan menganggap sepele dan berkata bahwa itu hanya karena stres saja.

Kalau saja aku tahu, papa memang ingin bertemu semua keluarga untuk terakhir kalinya, aku tidak akan menghalangi siapa pun untuk mengunjungi papa hanya karena takut terkena virus corona. Kalau saja aku tahu, waktuku bersama papa tidak lama, aku pasti akan menemani papa mengobrol daripada sibuk menyiapkan makanan, obat, dan segala macam upaya agar papa kembali sehat seperti sedia kala.

Papa yang Begitu Sayang Kami Semua

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/ARTFULLY
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/ARTFULLY

Ah, papa... Rasanya sedikit sekali kenangan tentang kebersamaan kita. Sejak aku kecil papa sudah menjadi orangtua angkat dari banyak perantau muda. Sejak dulu, papa sudah menjadi tulang punggung dari sanak saudara papa.

Sejak lama, papa terketuk hatinya untuk selalu melayani sesama. Aku hanya dapat memandang dari jauh, melihat kasih sayang papa yang berlimpah ruah kepada orang-orang di luar sana. Sampai-sampai, aku merasa hanya mendapatkan remah-remahnya saja.

Ya, aku tahu, papa sayang padaku. Aku tidak pernah meragukannya sedikit pun. Hanya aku saja yang bersikeras, tidak mau mengubah sudut pandangku tentang figur seorang ayah yang seharusnya menjadikan keluarga intinya yang utama.

Aku ingin marah, ketika papa terlalu sibuk untuk mereka yang jauh, sedangkan aku, hanyalah seorang gadis kecil yang rindu kehadiran sosok papa seutuhnya. Kini setelah papa pergi, aku pun belajar untuk menerima, bahwa memang begitulah cara papa menyayangi dan mendidik kami.

Papa mengajarkan kami untuk selalu berdiri di atas kaki kami sendiri. Papa selalu berpendapat, bahwa keluarganya akan selalu dijaga oleh Sang Pencipta. Papa seakan menitipkan kami pada orang lain, yaitu mereka yang sudah merasakan kebaikan papa semasa hidup. Papa sudah banyak menabur, kini, sepeninggal papa, kami anak-anaknyalah yang menuainya.

Pa, sekarang papa pasti sedang tersenyum kan? Karena papa sudah bahagia di surga. Sudah tidak ada lagi sakit dan derita. Pa, meski besar penyesalanku karena tak banyak yang dapat kulakukan. Namun aku percaya, kasih sayang dan penghormatanku tetap dapat papa rasakan.

Aku yang begitu mengagumi sosok papa sejak kecil. Aku yang berharap papa selalu kuat, sampai-sampai aku tidak terima ketika papa berhenti berharap, padahal papa sudah lelah menderita menahan rasa sakit.

Aku yang belajar banyak tentang kehidupan melalui papa. Aku yang kini terus berjuang mengejar mimpi karena papalah orang terdepan yang selalu mendukungku dalam hal apa pun.

Terima kasih ya pa. Perjuangan papa semasa hidup sudah berakhir, dan papa sudah menjadi pemenang. Meskipun saat itu tubuh papa terus melemah, tetapi iman papa terus bertambah. Aku bersyukur akan hal itu.

Izinkan aku untuk terus mengingat papa ya. Aku akan terus menulis dan merindu. Meski aku tahu surat ini tak akan pernah dibalas hingga akhir waktu.

Peluk dan cium,

Anakmu.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel