Hari Batik Nasional 2021, Menlu Retno Sebut Batik Indonesia sebagai Kekuatan Diplomasi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan bahwa batik merupakan soft power diplomasi Indonesia yang semakin kokoh dan diakui dunia.

Hal itu disampaikan dalam sambutannya pada pada peringatan "Hari Batik Nasional 2021: Hibah Batik dari BINHouse dan Peminjaman Batik Lawas dari Yayasan Batik Indonesia kepada Perwakilan RI di Luar Negeri" secara virtual di Jakarta, Sabtu 2 Oktober 2021.

“Batik Indonesia semakin kokoh dan sebagai bagian dari integral soft power diplomasi Indonesia,” kata Menlu Retno sebagaimana diwartakan ANTARA, Sabtu (2/10/2021).

Karena itu, kata dia, Kementerian Luar Negeri sebagai ujung tombak diplomasi Republik Indonesia harus terus berupaya menghadirkan batik sebagai identitas bangsa Indonesia dalam berbagai kesempatan di panggung dunia.

“Hari ini menandai lebih dari satu dasawarsa perjalanan diplomasi batik Indonesia yang telah diakui dunia, tidak hanya sebagai warisan budaya bangsa, tetapi juga sebagai warisan budaya tak benda sejak pengakuan UNESCO pada 2 Oktober 2009. Hal itu menunjukkan pengakuan dunia atas kekayaan budaya dan komitmen Indonesia dalam melindungi batik Indonesia,” ujarnya.

Retno menuturkan pada Mei 2019, untuk pertama kalinya di Dewan Keamanan PBB, Sekjen PBB Antonio Guterres dan hampir seluruh negara anggota Dewan Keamanan PBB mengenakan batik Indonesia.

Batik Papua di New York Fashion Week

Menlu Indonesia Retno Marsudi memimpin jalannya Sidang DK PBB yang diwarnai
Menlu Indonesia Retno Marsudi memimpin jalannya Sidang DK PBB yang diwarnai

Baru-baru ini, lanjut Menlu Retno, batik Papua tampil menghiasi ajang "New York Fashion Week" dan selama satu bulan pesona batik Indonesia hadir di museum All Russian Decorative Art yang terletak di pusat Kota Moskow.

“Kita semua memiliki tanggung jawab menjadi duta batik Indonesia, tentunya termasuk para diplomat RI. Pengarusutamaan batik menjadi kurikulum pendidikan dan pelatihan para diplomat juga dilakukan guna meningkatkan upaya mempromosikan batik Indonesia di luar negeri,” katanya.

Menurut dia, batik bukan hanya sebuah hasil karya, melainkan dalam setiap titik, gambar, dan lembar terdapat cerita dan filosofi yang dalam.

Untuk itu, Retno mengatakan, filosofi dan cerita itulah yang harus sering diceritakan, sehingga dunia akan lebih memahami dan mengapresiasi karya tersebut.

“Tugas para diplomat untuk menceritakan cerita dan filosofi tersebut dan menyampaikan, story-telling kepada dunia mengenai setiap lembar kain batik Indonesia dan filosofinya,” katanya.

Dia menilai diplomasi budaya tentunya sebagai alat mengenalkan lebih jauh Indonesia dan seyogyanya menjadi pendukung juga pelaksanaan diplomasi ekonomi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel