Hari-Hari Mendebarkan di Zona Bahaya Usai Gunung Merapi Berstatus Siaga

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Yogyakarta - Warga di sejumlah desa di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah disiapsiagakan untuk menghadapi dampak erupsi Gunung Merapi setiap saat, menyusul peningkatan status aktivitas vulkanik gunung itu dari waspada ke siaga, Kamis.

Kepala Desa Jrakah, Kecamatan Selo Tumar di Boyolali, Kamis, mengaku telah mengumpulkan tim siaga desa untuk pembekalan dan sosialisasi terkait dengan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi peningkatan status aktivitas vulkanik Gunung Merapi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yang berkantor di Yogyakarta.

Ia mengaku sekitar pukul 12.30 WIB mendapat informasi kenaikan status aktivitas vulkanik gunung itu dari tim relawan Desa Jrakah.

Ia mengatakan tentang pentingnya masyarakat di kawasan Gunung Merapi tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan situasi gunung berapi dengan wilayah meliputi Kabupaten Boyolali, Klaten, Magelang (Jawa Tengah) dan Sleman (D.I. Yogyakarta) itu.

Jika sewaktu-waktu Merapi erupsi, katanya, masyarakat sudah harus siap dengan berbagai perbekalan, termasuk surat-surat penting, untuk mengungsi. Kesiagaan itu, terutama bagi mereka yang tinggal di dusun yang masuk kawasan rawan bencana (KRB). Sejumlah pedukuhan di Desa Jrakah yang masuk KRB III, yakni Sepi, Sumber, Jarak, dan Jrakah.

"Mereka, suatu saat terjadi erupsi tinggal membawa bekalnya atau tas koper ke tempat pengungsian," katanya, dikutip Antara.

Terkait dengan pengungsian, Pemerintah Desa Jrakah sudah menjalin kerja sama Program Desa Persaudaraan dengan Desa Karanggeneng, Kabupaten Boyolali. Jika Merapi sewaktu-waktu erupsi, warga Jrakah mengungsi ke Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali. Namun, evakuasi warga ke pengungsian harus menunggu instruksi Pemkab Boyolali.

Program Desa Persaudaraan

Belum terlihat kubah lava di Kawah Gunung Merapi, Kamis pagi (5/11/2020). (Foto: Liputan6.com/Wisnu Wardhana)
Belum terlihat kubah lava di Kawah Gunung Merapi, Kamis pagi (5/11/2020). (Foto: Liputan6.com/Wisnu Wardhana)

Kepala Desa Klakah Marwoto mengemukakan pihaknya rapat koordinasi dengan sejumlah tokoh warga dan relawan desa untuk menyikapi peningkatan status aktivitas vulkanik Merapi.

Selain itu, berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali terkait dengan pengangkutan pengungsi dan logistik di tempat pengungsian, serta penerapan protokol kesehatan di tengah pandemi COVID-19 dalam proses evakuasi dan di tempat pengungsian.

"Untuk mempersiapkan semuanya. Namun, kami berharap naiknya status Merapi tidak ada kejadian hal yang tidak diinginkan," katanya.

Pemdes setempat telah menyiapkan kerja sama dalam Program Desa Persaudaraan dan dari famili ke famili di Desa Gantang, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang untuk kepentingan pengungsian warganya.

Sejumlah pedukuhan di Desa Klakah yang masuk KRB dengan lokasi berjarak sekitar 3,5-4 kilometer dari puncak Merapi, antara lain Sumber, Bangusari, Bakalan, Klakah Duwur, Klakah Tengah, dan Klalah Ngisor.

Kepada BPBD Kabupaten Boyolali Bambang Suningharjo menjelaskan pemkab sudah melakukan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan erupsi Merapi sejak 21 Juni 2020, ketika terjadi erupsi terakhir. Daerah setempat yang masuk KRB III erupsi Gunung Merapi, yakni Desa Klakah, Jrakah, dan Selo.

Kesiagaan itu antara lain menyangkut 100 ribu masker untuk mencegah warga dari gangguan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan logistik lainnya untuk membantu warga di pengungsian.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menaikkan status aktivitas vulkani Gunung Merapi di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta itu dari level II (waspada) menjadi level III (siaga) pada Kamis, pukul 12.00 WIB.