Hari Ibu, Banyak Perempuan Merasa Ditinggalkan Saat Melahirkan di Masa Pandemi

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Perayaan Hari Ibu tahun ini harus dilakukan dengan kondisi yang berbeda di masa pandemi COVID-19. Ada banyak ibu yang harus terpisah dari anaknya karena menjadi tenaga medis untuk merawat pasien COVID-19. Namun salah satu dampak buruk bagi mereka yang baru ingin menjadi ibu adalah merasa diabaikan dan ditinggalkan selama kehamilan dan saat persalinan.

Rumah sakit masih bebas membuat aturan sendiri tentang bagaimana mereka menangani perempuan selama kehamilan, dalam persalinan, dan menunggu berjam-jam setelah melahirkan. Sebagian rumah sakit di seluruh dunia memilih untuk melarang kehadiran pasangan selama proses persalinan. Tujuannya, mengurangi kerumunan orang di dalam ruang persalinan agar tidak terjadi penularan.

Ibu yang hendak melahirkan pun harus melalui berbagai prosedur kesehatan yang semakin rumit. Seperti melakukan swab test sebelum melahirkan yang semakin menambah biaya pengeluaran jelang persalinan.

Di awal pandemi, tidak sedikit ibu yang harus kehilangan anaknya karena terhalang prosedur rumah sakit. Di saat ibu sudah waktunya melahirkan namun harus ditunda akibat prosedur swab test yang tidak sebentar menyebabkan keracunan pada bayi dalam rahim dan akhirnya tidak bisa terselamatkan.

Hamil jadi sesuatu yang menakutkan

Ilustrasi Keluarga Credit: pexels.com/Anastasia
Ilustrasi Keluarga Credit: pexels.com/Anastasia

Dengan kondisi seperti ini, membuat kehamilan yang seharusnya menjadi sesuatu yang membahagiakan seolah menjadi malapetaka baru di masa pandemi. Belum lagi, ibu yang memiliki kondisi kesehatan tertentu yang harus menjalani masa isolasi karena dinilai memiliki risiko terhadap infeksi yang lebih tinggi.

"Kehamilan ini mulai terasa seperti keputusan yang mengerikan. Tidak dapat meminta dukungan keluarga, kami melakukan yang terbaik untuk berbagi beban kehidupan keluarga di antara kami," ungkap Hannah Fearn, perempuan asal Inggris.

Ketika menghadapi kehamilan sendiri membuat perempuan juga harus menghadapi kabar buruk yang mungkin terjadi selama kehamilan. Pasalnya, ada sejumlah rumah sakit yang tidak mengijinkan suami menemani sang istri kontrol ke dokter. Ini membuat banyak suami merasa frustasi dengan kehamilan istrinya.

Semua harus sendiri

Ilustrasi/copyrightshutterstock/Natalia Deriabina
Ilustrasi/copyrightshutterstock/Natalia Deriabina

Jelang persalinan, ibu biasanya mengalami kontraksi setiap beberapa menit atau beberapa jam sekali. Di sinilah sebenarnya seorang perempuan membutuhkan dukungan dari suami agar dapat bertahan hingga persalinan. Namun, bayangkan jika suami tidak diijinkan menemani istri sepanjang kontraksi. Tentu membuat persalinan menjadi sesuatu yang melelahkan.

Masalah tidak berhenti pasca persalinan. Setelah bayi lahir, ibu dan anak kebanyakan harus menjalani masa isolasi. Di beberapa rumah sakit bahkan memperpendek masa rawat inap sementara ibu melahirkan belum sepenuhnya pulih.

Belum ada lembaga atau pemerintah yang mengatur soal kebijakan persalinan yang jelas. Sehingga ibu hamil harus mencari info sendiri dan mengandalkan media sosial untuk memastikan proses persalinan seperti apa yang harus ia jalani.

Simak video berikut ini

#changemaker