Hari Lahir Pancasila, Ridwan Kamil Lelang Lukisan untuk Palestina

·Bacaan 1 menit

VIVA – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melelang lukisan pribadi untuk didonasikan bagi korban perang di Palestina.

Selain lukisan Ridwan Kamil, lukisan mantan Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jawa Barat Agung Suryamal ikut dilelang.

"Dilelang mulai dari 50 juta. Lelang sampai sore karena mayoritas online, sekitar jam 18.00 dan umumkan," ujar Ridwan Kamil di sela pelelangan lukisan, di Gedung Sate Kota Bandung, Selasa, 1 Juni 2021.

Dalam acara lelang yang disertai dengan memperingati hari lahir Pancasila ini, Ridwan Kamil memastikan dukungannya kepada Palestina menjadi tanggung jawab sosial.

"Sebenarnya ngedukung Palestina itu sudah lahir batin. Sesuai pesan Bung Karno, selama Palestina belum merdeka tidak akan berhenti mendukung," katanya.

Selain melelang lukisan, Ridwan Kamil juga melelang bunga berbagai jenis. "Dulu saudagar Palestina menyumbang uang, ulama-ulama Palestina mengajak negara lain untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Sekarang butuh kita maka harus dukung," katanya.

Lebih lanjut, Ridwan Kamil menuturkan, pada hari lahir Pancasila ini harus jadi momentum masyarakat lebih mempererat kondusifitas. Berkaca dari sejarah, Pancasila merupakan ideologi final yang diakui dunia.

"Yang mengapresiasi Pancasila justru adalah bangsa-bangsa lain maka gagasan besar saya bahwa Pancasila itu bukan hanya ideologi Indonesia tapi bisa kita tawarkan menjadi ideologi dunia," katanya.

Presiden Soekarno, menurut dia, punya andil besar dalam memperkuat Pancasila di dunia. "Lima sila itu kalau tidak nyetrum ke orang-orang pinter nggak mungkin menyatakan bahwa dasar negara kita itu sangat universal," ujarnya.

Dia menambahkan, "Masalah Indonesia hari ini adalah mudah bertengkar bukan masalah ekonomi, bukan masalah COVID-19, saya mengamati terjadinya mudah bertengkar karena kita selalu dididik oleh sebuah lingkungan yang membesar-besarkan perbedaan, harusnya kita didik generasi kita ini membesarkan persamaan. Pertengkaran itu datang dari kelompok yang melihat perbedaan itu bukan sebagai rahmat tapi sebagai kebencian."