Hari Lahir Pancasila, Siswa SDN 3 Nanggulan Bacakan Puisi Tradisional

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Rikala semana 1 Juni 1945

Bangsa Indonesia durung merdhika

Isih ana ing wektu perjuangan

Insinyur Soekarno satriya gagah prakosa

Ngudhar gagasan Pancasila

Kang bakal dadi paugeran uripe Bangsa Indonesia

Temen den lampahi datan bisa diselaki

Pancasila pancen jumbuh karo budayane Bangsa Indonesia

Tuwuh rasa manunggaling tekad bareng anggayuh kamulyan jati

Merdhika Merdhika Merdhika

Bangsa Indonesia

Geguritan berjudul Laire Pancasila itu dibacakan dengan lantang oleh Salsabila Jelita, salah satu siswa SDN 3 Nanggulan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten, Selasa (1/6). Meski masih bocah, namun Salsabila begitu percaya diri membacakan geguritan itu di hadapan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Ya, Ganjar sengaja datang ke SDN 3 Nanggulan untuk menyapa para pelajar di sana. Bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, Ganjar juga ingin berdiskusi dengan para pelajar itu tentang Pancasila dan implementasi di kehidupan sehari-hari.

"Hebat. Bagus sekali anak-anak kita diajari geguritan," kata Ganjar sambil memuji Salsabila.

Di luar dugaan, antusiasme para pelajar SD itu untuk membahas Pancasila dan pencetusnya, Bung Karno begitu tinggi. Tak hanya Salsabila yang percaya diri membacakan geguritan, sejumlah siswa lain juga begitu semangat tampil dengan kebolehan mereka. Ada yang membaca puisi, ada pula yang dengan tangkas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Ganjar.

Salah satunya saat Ganjar menanyakan dimana tempat lahir Soekarno. Seorang siswa bernama Tio berhasil menjawab dengan benar. Tanpa dibantu siapapun, Tio berdiri dan menjawab bahwa Soekarno lahir di Surabaya.

"Lahir di Surabaya pak," jawabnya lantang.

"Betul, kamu hebat," puji Ganjar pada Tio.

Tak hanya tempat lahir Soekarno, siswa-siswa SD itu juga bisa menjawab pertanyaan lain dari Ganjar tentang sosok Soekarno. Hal itu jelas membuatnya sangat bangga.

"Ternyata anak-anak ini hebat semuanya. Sampai sejarah Bung Karno saja tahu, keren ini," tegasnya.

Tak hanya soal Pancasila dan Soekarno, dalam kesempatan itu Ganjar juga menanyakan tentang budi pekerti pada siswa itu. Diantaranya Ganjar menanyakan bagaimana tata krama meminta izin kepada guru, tata krama saat melintas di depan guru atau orang tua dan sebagainya. Ternyata, jawaban-jawaban anak-anak itu sangat-sangat memuaskan.

"Anak-anak ini hebat semua. Mereka berani dan percaya diri. Dan pada peringatan Hari Lahir Pancasila ini, ternyata anak-anak bisa membacakan geguritan, membacakan puisi, mengerti sejarah Bung Karno, mengerti apa itu Pancasila, lagu kebangsaan dan lainnya," kata Ganjar.

Ganjar berharap anak-anak tersebut tidak hanya hafal Pancasila dan sejarahnya. Namun mereka bisa mengimplementasikan spirit Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

"Mudah-mudahan ini bisa menjadi spirit bagaimana menanamkan Pancasila dalam implementasi yang konkret, kehidupan sehari-hari, dan itu mulai dari anak-anak kita yang hebat ini," imbuhnya.

Ganjar juga mengapresiasi guru dan seluruh pihak yang mendukung pembelajaran di SDN 3 Nanggulan Klaten. Menurutnya, SDN 3 Klaten merupakan salah satu sekolah dasar yang bagus dan dapat dijadikan contoh. Sebab selain mengajarkan pelajaran umum, di sekolah tersebut anak-anak diajari bagaimana bertata krama, berbudi pekerti.

"Menurut saya hal itu merupakan spirit yang perlu ditanamkan untuk mengimplementasikan Pancasila. Buat anak-anak tetap semangat belajar ya, nanti kalau sudah besar, harus jadi pemimpin ya, karena kalian ini berani dan pintar," tutupnya.

(*)