Hari Lingkungan Hidup, Penyu dan Tukik Dilepasliar di Kepulauan Seribu

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Jakarta Aquarium dan Safari (JAQS) untuk pertama kalinya melakukan pelepasliaran penyu, Jumat 28 Mei 2021. Hal ini dilakukan sebagai bukti dan tanggung jawab JAQS sebagai sebuah Lembaga Konservasi ex-situ (Taman Safari Indonesia Group) dan di bawah pengawasan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

"Jakarta Aquarium dan Safari bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu dan Yayasan Puteri Indonesia melepasliarkan penyu dan tukik-tukik sebagai wujud tanggung jawab kami sebagai sebuah Lembaga Konservasi yang peduli terhadap pelestarian satwa dan lingkungan," ujar Fira Basuki, Head of Social, Branding, and Communication JAQS.

Seekor penyu dan puluhan ekor tukik dilepasliarkan di Pantai Cikaya, Pulau Karya, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Pelepasliaran diwakili Aaron Morgan Jupp, Kurator JAQS dan Putu Ayu Saraswati, Puteri Indonesia Lingkungan 2020. Keduanya didampingi tim Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka, dan tim Jakarta Aqurium dan Safari.

Yang dilepaskan adalah seekor penyu dewasa berjenis Penyu Sisik atau Hawksbill Sea Turtle (Eretmochelys imbricata) dan 30 tukik. Kegiatan pelestarian lingkungan tersebut dilakukan sekaligus memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2021.

"Sebenarnya kami menampung total 6 hewan. 1 Penyu Hijau dan 5 Penyu Sisik. Beberapa masih tinggal di Pusat Suaka Penyu Pulau Pramuka menunggu pelepasan. Mereka belum cukup siap untuk alam liar sehingga membutuhkan lebih banyak waktu untuk membangun kekuatan, massa otot, dan berat keseluruhan mereka," ujar Aaron.

Dari tujuh spesies penyu laut di seluruh dunia, Penyu Hijau dan Penyu Sisik paling sering hidup di perairan Indonesia. Keduanya benar-benar terancam punah, masing-masing diklasifikasikan sebagai terancam punah dan sangat terancam punah.

Berkurangnya jumlah populasi spesies ini memiliki konsekuensi drastis bagi stabilitas dan keberadaan mereka di masa depan; karena jumlah hewan yang lebih sedikit bereproduksi, berkurangnya keragaman genetik dalam populasi membuat mereka rentan terhadap risiko penyakit, parasit, dan tekanan lainnya yang lebih besar.

Penyu dapat memakan waktu hingga 50 tahun untuk matang sebelum mereka siap untuk bereproduksi dan bahkan ketika mereka mampu menciptakan generasi hewan berikutnya, tingkat kelangsungan hidup mendekati hanya 1 dari setiap 1.000 bayi yang lahir yang akan mencapai dewasa dan bereproduksi diri.

Penyu laut tidak sering berhasil dikembangbiakkan di penangkaran karena banyak faktor, kendala untuk mendapatkan hewan sehat yang benar-benar dapat bereproduksi tidak umum, karena sebagian besar hewan yang diselamatkan di akuarium seringkali terlalu muda, terlalu sakit, atau sebaliknya.

"Kami dapat membantu dalam hal ini, dengan mengumpulkan telur secara aman dan mengeraminya pada suhu yang tepat yang menghasilkan pejantan dan kemudian melepaskannya saat siap menetas," kata Aaron.

Sementara Pelaksana Tugas (Plt) Lurah Pulau Panggang, Iskandar mengatakan, bahwa pihaknya menyambut baik kegiatan tersebut, sebagai salah satu upaya mempromosikan Pesona Pariwisata Kepulauan Seribu di mana memiliki potensi untuk dikembangkan.

"Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan dampak yang baik bagi pengembangan pariwisata yang berbasiskan masyarakat. Dan kegiatan tersebut dapat berkelanjutan," ujar Iskandar

Puteri Indonesia Lingkungan 2020, Putu Ayu Saraswati juga menyatakan kegembiraannya ketika terpilih mendampingi JAQS dalam pelepasliaran penyu ini.

"Pulau Seribu bukan hanya tempat rekreasi, tapi juga kombinasi untuk edukasi, konservasi yang berdampak baik untuk lingkungan sekitar. Karena itu saya senang, ketika Jakarta Aquarium dan Safari mengajak saya untuk berpartisipasi dalam pelepasliaran penyu ini demi pelestarian satwa dan lingkungan," ujar dia.

Penanaman Mangrove

Selain pelepasan penyu, kegiatan lainnya adalah penanaman mangrove di Pulau Pramuka sebanyak 50 batang, satu frame transplantasi tanam lamun.

"Selain pelepasliaran tukik, kami juga melakukan penanaman mangrove bersama Puteri Indonesia Lingkungan 2020, kemudian tanam lamun," kata Kusminardi, Kepala SPTN Wilayah III Pulau Pramuka Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu.

"Kami berharap agar mereka panjang umur dan sejahtera, menikmati terumbu karang dan lautan bebas di alam liar - berkontribusi pada pengelolaan terumbu karang dan padang lamun tersebut dengan menjaga keseimbangan ekologi - akhirnya menemukan pasangan untuk dikawinkan dan menghasilkan banyak bayi untuk masa depan," ujar Aaron.

"Tentunya kegiatan pelepasliaran ini akan nantinya rutin kami lakukan, juga dengan satwa lain yang telah kami kembangbiakkan di Jakarta Aquarium dan Safari, contohnya pari, hiu, dan banyak lagi," kata Fira.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel