Hari Perempuan Internasional, Dua Perempuan Inspiratif yang Sukses Berkarier di Industri Teknologi

·Bacaan 6 menit

Fimela.com, Jakarta Tanggal 8 Maret adalah hari yang dinanti. Momentum tersebut adalah Hari Perempuan Internasional. Sebuah peringatan untuk perjuangan perempuan yang menuntut kesetaran gender dan pencapaian perempuan.

Dua sosok perempuan inspiratif kali ini adalah perempuan lulusan Bangkit 2020 dalam meraih mimpi untuk bekerja di bdang teknologi. Keduanya bekerja sebagai backend engineer, sebuah bidang pekerjaan yang didominasi oleh laki-laki.

Sosok yang pertma adalah Fatma. Perempuan kelahiran Serang 29 tahun lalu ini. Meski ia adalah seorang lulusan Master of Petroleum Engineering, University of New South Wales di Sydney, tak menghalanginya untuk belajar dunia yang ia cintai yaitu teknologi. Ia memutuskan beralih ke bidang yang berbeda dari yang ia pelajari di bangku kuliah karena melihat besarnya peluang untuk berkembang. Hingga akhirnya sejak April 2019 ia memutuskan bekerja sebagai software engineer di Alterra sebuah layanan tagihan & pembayaran digital.

Keinginan perempuan bernama lengkap Fatma Janna untuk belajar machine learning dan artificial intelligence berangkat dari keinginannya untuk mengetahui dan memahami pengaplikasian kedua teknologi ini. Hingga akhirnya ia mendapat informasi dan memutuskan untuk mendaftar program Bangkit angkatan 2020. Dari hampir 2.500 pelamar, terpilih 300 peserta berkualitas dan bermotivasi tinggi dari seluruh Indonesia yang diundang untuk bergabung dengan Bangkit, salah satunya adalah Fatma.

Setelah bergabung dengan Bangkit ia pun mengetahui bahwa machine learning dan artificial intelligence sudah sangat banyak digunakan di berbagai sektor dari bidang pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan dan banyak lainnya.

Bangkit juga menjadi wadah untuk meningkatkan soft skills. Fatma menyebutkan salah satu pelajaran yang paling menarik baginya adalah rapid learning, yaitu metode agar bisa belajar dengan cepat, efisien, dan optimal. Selain itu sebagai peserta perempuan, baginya pengalaman yang paling berkesan adalah pembelajaran “I am Remarkable”. Ia menyadari bahwa diluar sana kendala yang sering dialami perempuan adalah kepercayaan diri dan keinginan untuk menunjukan potensi aslinya.

“Dari I am Remarkable, saya belajar bahwa sangat penting bagi kita sebagai perempuan untuk memiliki kepercayaan diri dan menyadari potensi dan kemampuan yang dimiliki. Saya belajar bahwa perempuan, dan masing-masing dari kita juga punya banyak potensi yang bisa digali dan disyukuri. Selanjutnya tinggal bagaimana kita merubah pola pikir dan cara pandang terhadap diri kita sendiri, untuk lebih menghargai diri dan memberikan peluang untuk kita menjadi lebih berani, misal dalam hal berpendapat, berargumentasi, diskusi dan juga berkontribusi dan kreasi,” papar Fatma.

Fatma juga merupakan salah satu peserta pada tim dengan proyek terbaik di Bangkit. Fatma dan timnya membuat Garbage Image Classification, sebuah proyek yang dikembangkan untuk mengatasi permasalahan sampah yang ada di Indonesia.

“Setelah menjadi peserta program Bangkit, saya mendapatkan hal-hal yang jauh lebih baik dan bermanfaat dari apa yang saya harapkan. Karena tidak hanya belajar tentang machine learning, saya juga belajar banyak soft skills seperti keahlian komunikasi, kolaborasi, presentasi, hingga time management. Pelajaran soft skills ini menginspirasi saya untuk bekerja lebih baik ketika di Alterra, untuk berkontribusi lebih baik dengan kolaborasi dan time management yang lebih baik. Terbukti, di akhir semester 2 tahun 2020 di Alterra, saya mendapatkan gelar 'runner' berdasarkan performa kerja yang dinilai di atas rata-rata, sehingga bisa mendapatkan reward atau bonus dari kantor dan juga kenaikan gaji. Saya terinspirasi untuk bisa lebih banyak berkarya dan berkontribusi dalam pengembangan ekosistem teknologi di Indonesia hingga akhirnya awal Maret lalu saya bekerja sebagai backend engineer di Quinyx perusahaan yang berfokus pada sistem manajemen tenaga kerja berbasis AI” ungkap Fatma.

Fatma berpesan bagi perempuan yang memiliki ketertarikan di bidang teknologi, baik itu software engineering, machine learning, data science, ataupun lainnya. Ia menyarankan untuk segera memulai dan mencoba mengeksplorasi bidang ini.

“Bukan karena kita perempuan jadi merasa kurang mampu dan minder, tetapi justru karena kita perempuan, kita perlu tunjukkan bahwa kita juga mampu untuk bisa belajar dan terus berkembang menjadi lebih baik. Industri teknologi juga membutuhkan banyak women engineers/specialists, karena kita juga memiliki peranan yang tidak kalah penting. Hal ini bisa dimulai dari belajar otodidak secara online, mengikuti coding bootcamp atau webinar, hingga bergabung dengan komunitas. Jika ada kesempatan, wajib untuk daftar program Bangkit, karena ia merupakan hal yang sangat berharga dan cukup langka untuk bisa mendapatkan kesempatan menjadi partisipan Bangkit,” pungkasnya.

Fatma Janna, kini ia berprofesi sebagai software engineer di di Alterra.
Fatma Janna, kini ia berprofesi sebagai software engineer di di Alterra.

Jessica Cecilia Budianto

Motto lulusan Bangkit ini hanya “Just make it happen”
Motto lulusan Bangkit ini hanya “Just make it happen”

Perjuangan yang dilakukan setiap perempuan untuk mencapai mimpinya tentu berbeda-beda. Seperti yang dilakukan Jessica Cecilia Budianto. Ia memilih untuk meningkatkan pengetahuan dan soft skill yang menyita waktu luangnya dengan bergabung pada program Bangkit 2020. Awalnya, ia mengetahui program ini dari sebuah unggahan di media sosial dan juga di grup obrolan kuliahnya.

“Saat pertama kali mengetahui program Bangkit, saya langsung tertarik. Awalnya saya ragu untuk mendaftar karena saat itu bertepatan dengan masa pengerjaan tugas akhir. Saya sadar ini akan sangat berharga, tapi saya khawatir tidak dapat membagi waktu. Akhirnya saya memutuskan untuk berkonsultasi dengan dosen dan disarankan untuk mendaftar. Saya sangat terkejut sekaligus senang saat kemudian tahu saya diterima,” cerita Jessica.

Baginya, bergabung di Bangkit 2020 merupakan kesempatan emas untuk membangun networking, bertemu dan belajar langsung dari para pakar dari Google, Tokopedia, Gojek, Traveloka, dan perusahaan berskala internasional lainnya, hingga berkesempatan mengikuti program pelatihan eksklusif machine learning secara gratis padahal umumnya berbayar.

Tidak hanya itu, soft skill-nya juga turut berkembang setelah mengikuti program Bangkit 2021. Salah satu sesi yang paling menarik adalah “Professional Communications” yaitu sesi berkomunikasi berdasarkan temperamen. Di sini peserta belajar mengenali temperamen diri sendiri dan bagaimana menghadapi orang dengan temperamen berbeda.

Selain itu, ada pula sesi “Rapid Learning” yang disampaikan secara menarik dan interaktif oleh salah satu fasilitator Bangkit, Anson Ben. Jessica juga mengikuti sesi lanjutannya untuk belajar bagaimana mempertahankan minat dalam mempelajari sesuatu dan berkesempatan mengikuti diskusi tambahan bersama peserta Bangkit lainnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana dari Program Studi Informatika, Institut Teknologi Harapan Bangsa pada November 2020, perempuan berusia 21 tahun ini memulai karirnya di Tokopedia sebagai Software Engineer sejak Desember 2020. Menurutnya, pengalaman mengikuti program Bangkit 2020 sangat berkontribusi dalam pencapaian karirnya.

“Di program ini saya juga belajar membuat curriculum vitae yang benar dan menghadapi wawancara. Saya belajar bahwa yang paling dinilai oleh tim rekrutmen saat wawancara bukan sekadar prestasi seseorang, tetapi juga kepribadian, motivasi, hingga sikap dalam menghadapi masalah. Tentunya, sertifikasi yang saya peroleh dari Bangkit meningkatkan kualifikasi saya untuk bekerja di bidang data dan pengetahuan yang saya miliki juga akan sangat memudahkan jika saya harus bekerja dengan tim data,” jelasnya.

Dari semua lulusan Bangkit 2020, 26% diantaranya merupakan perempuan dan Jessica adalah salah satunya. Ia sangat terkesan sekaligus bangga melihat banyak perempuan yang mengikuti program ini dan senang melihat Google secara tidak langsung mendorong perempuan untuk belajar dan bekerja di bidang teknologi informasi. Masih banyak perempuan yang berpikir pekerjaan di bidang ini berarti menulis kode dan membuat program, padahal banyak juga dibutuhkan kemampuan bisnis, statistika, desain, dan lainnya. Apalagi sekarang pendekatan teknologi informasi sudah ada di berbagai bidang.

“Bagi teman-teman sesama perempuan di luar sana, kalau kalian masih bingung memilih program studi yang sesuai dengan minat saat kuliah atau berminat mengembangkan karir ke bidang lain, ayo mencari informasi terkait posisi dan kualifikasi apa saja yang dibutuhkan di bidang tersebut,” pesannya.

Jessica juga menyampaikan untuk jangan cepat puas karena perkembangan teknologi begitu cepat dan suatu teknologi bisa dengan cepat tergantikan teknologi lainnya. “Jangan pernah berhenti belajar. Saya sempat merasa cukup ketika mengikuti program Google Developers Kejar 2018, tetapi ternyata saat ini Kotlin dan Dart sudah lebih populer dibanding native Java," tutur Jessica. "Just make it happen!"

#Elevate women